Indahnya Persahabatan
- U-Report
VIVA.co.id – Pagi telah datang. Sinar matahari mulai tampak dan cahayanya terasa hangat. Burung-burung menyambutnya riang. Bernyanyi sambil menari dan melompat dari dahan ke dahan. Aku sendiri telah mandi dan sudah siap pergi. Seragam putih abu-abu pun telah melekat rapi di badanku. Sebentar lagi aku berangkat ke sekolah.
Sesampai di sekolah, aku melihat semua ruangan masih tertutup. Rupanya teman-teman yang datang lebih dulu enggan membukanya. Aku segera membuka semua pintu dan jendela yang ada. Aku berharap sinar matahari dapat masuk dengan leluasa. Kemudian tas kusimpan di laci meja. Kemudian aku keluar mencari teman-teman, tapi mereka ternyata tidak ada. Mungkin sedang jajan, pikirku.
Dalam sendiri aku menatap aneka bunga di taman. Melati, mawar, kenanga dan anggrek tampak berseri-seri. Indah sekali. Kupetik sekuntum melati yang sedang mekar, kuselipkan di antara rambutku yang terurai. Melati itu terjatuh. Kuambil kembali dan kuselipkan di antara telinga. “Wow, alangkah cantiknya aku,” pujiku dalam hati ketika kubercermin di kaca pintu.
Satu-satu temanku mulai datang. Kemudian kami berkumpul berbincang-bincang. Lalu datang Resti dan Siska. Mereka saling menyiku sambil melirik padaku. “Selamat pagi,” sapaku dengan senyum. Tapi mereka malah tertawa dan pergi meninggalkan kami. Dalam hati aku kesal melihat tingkahnya yang begitu. Tapi aku tak dapat berbuat apa-apa. Karena lonceng tanda masuk telah dibunyikan.
Kami semua bergegas masuk kelas. Hari ini ulangan IPA. Aku duduk dengan perasaan tenang karena malam sebelumnya aku telah menghapal dengan tekun, karena aku tahu ini ulangan lisan. Alhamdulillah, hasilnya terlihat. Hampir semua pertanyaan yang dilontarkan guru aku jawab dengan benar.
Ketika jam istirahat, teman-temanku ribut di belakang. Kudekati mereka untuk ikut mengobrol. Tapi sebagian dari mereka ada yang mencibir dan mendeham. Terkesan mengejek. Hanya satu yang memujiku, Santi namanya. “Hebat kau Aya. Kau pintar sekali. Aku ingin seperti kau!” pujinya tanpa aling-aling. Baru saja aku tersenyum dan mau menjawab, tiba-tiba Resti berkata, “Buat apa pintar kalau sombong,” ia mencibir kusam. Aku memandangnya dengan perasaan terluka. Bersama teman-teman lainnya lalu kompak tertawa. Segera aku menghindar saja.