Dulu Barang Mewah, Sekarang Tidak Lagi
- VIVAnews/Muhamad Solihin
VIVA.co.id – Semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula teknologi. Misalkan saja handphone. Dulu handphone adalah barang mewah bagi orang-orang, khususnya orang dewasa. Lalu televisi, televisi dulunya juga adalah barang mewah. Di kampung-kampung paling hanya 1 sampai 3 orang saja yang memilikinya. Mungkin hanya pejabat kampung seperti ketua RW, ketua RT, kepala desa, atau camat.
Jadi, terkadang untuk mendapatkan dan melihat hiburan yang ditayangkan di televisi mau tidak mau orang-orang yang tidak memiliki televisi harus pergi ke rumah orang yang memilikinya. Orang yang memiliki televisi pun juga terkadang menyediakan nonton bareng atau nonton bersama-sama.
Alat transportasi pun juga termasuk barang mewah, bahkan sangat mewah dan mahal. Tidak banyak orang yang bisa memilikinya. Sepeda motor dan mobil contohnya. Sepeda motor dan mobil biasa digunakan untuk berangkat ke tempat kerja, kantor atau kebun contohnya. Namun, kalau tidak ada sepeda motor ataupun mobil, becak dan sepeda pun jadi. Mobil juga bisa digunakan untuk mengangkut hasil panen, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. Namun, kalau tidak ada mobil, orang dulu menggunakan gerobak dengan memanfaatkan tenaga kuda, sapi, lembu, ataupun kerbau.
Handphone, televisi, sepeda motor, dan mobil di zaman yang sekarang bukanlah lagi disebut barang mewah. Kenapa? Semakin berkembangnya zaman, teknologi pun sudah semakin berkembang. Orang-orang jadi menginginkan untuk memiliki semua itu. Di zaman sekarang saja, anak SD, SMP dan SMA, sudah memiliki handphone. Bahkan sampai dibawa ke sekolah. Bukan hanya anak SD, SMP dan SMA saja, anak kecil yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak saja sudah memilikinya. Malah mereka jauh lebih jago dan pandai dalam menggunakannya daripada orang dewasa.
Bukan cuma itu, bahkan banyak orang yang bekerja terkadang hanya untuk membeli handphone. Malah handphone kuli bangunan yang ada di dekat rumahku jauh lebih keren daripada handphone-ku. Lalu televisi. Orang dengan pekerjaan yang hanya mendapatkan bayaran tidak bisa dikatakan banyak saja, sudah punya televisi. Padahal penghasilan mereka dalam bekerja tidak begitu banyak dan tidak cukup untuk membeli sebuah televisi.