Pahlawanku yang Sesungguhnya
- Pixabay/ Ulilink
Berjibaku dengan mobil box-nya dalam melawan debu dan polusi kota Jakarta merupakan makanan sehari-hari ayahku. Mengantarkan baut, mur, serta ring pesanan perusahaan-perusahaan tetangga. Sesekali aku ikut bekerja dengan ayahku. Melihatnya menyetir mobil box, mengantarkan dan menggendong berpuluh-puluh kilogram baut. Miris sekali aku melihatnya, tak terasa air mata meneteskan duka perih dari mataku.
Seusai bekerja memanggul beberapa kardus baut tersebut, ayah segera duduk di sampingku. Tak terlihat raut lelah dari wajahnya. Justru ia tersenyum manis kepadaku, berusaha tetap tegar di depan anak perempuan kesayangannya dengan melakukan candaan-candaan ringan. Aku tahu jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasakan lelah yang teramat sangat. Namun, diriku tidak pernah malu akan profesi orangtuaku.
Dua puluh tiga tahun sudah ayahku mengabdi pada perusahaan baut tersebut. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya selama ini, akhirnya sekarang ayahku menjadi manajer marketing pada perusahaan itu. Selain menjadi seorang manajer, ia juga tengah merintis usaha outbond di daerah Cikole, Lembang, Bandung. Dan membangun bengkel di daerah Depok.
Hidup itu adalah sebuah tantangan. Dan ayahku berhasil menaklukkan tantangan tersebut. Beliau tak pernah lelah dan putus asa untuk kembali bangkit dan maju demi masa depan dan kebahagiaan keluarganya. Semoga Allah SWT selalu melindunginya di mana pun ia berada. (Tulisan ini dikirim oleh Rinjani Pangestu, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Nasional, Jakarta)