Kiamat Komunikasi dalam Praktik Bahasa Ibu
- U-Report
Ada tiga komponen yang dapat saya runut sebagai masalah bertingkat terkait bahasa di sini. Mendekatnya bahasa Ibu ke arah kepunahan diakibatkan kalah kuat perannya dengan bahasa Indonesia yang mampu mengintegrasikan masyarakat multikultural di Indonesia. Ketika bahasa Indonesia sudah mampu menjadi bahasa resmi yang digunakan orang banyak. Justru Bahasa Indonesia menjadi rusak akibat keberadaan bahasa asing yang disadur dan dipadu-padankan dengan bahasa Indonesia yang di luar kaidah kebahasaan.
Prokem-prokem yang keliru dari virus yang disebar via media masa, trend berbahasa yang mengaku terkini modernisasi, dan tak kalah penting adalah pengaruh globalisasi yang menjadi dalang rusaknya bahasa Indonesia. Masalah tidak berhenti di sana. Penggunaan bahasa asing pun kerap kali tidak sempurna penggunaannya akibat penyerapan bahasa asing yang tidak sempurna.
Sekilas kita melihat masalah ini begitu kompleks. Kekhawatiran menyurutnya eksistensi bahasa Ibu akan berpengaruh pada bahasa-bahasa lain yang sejajar kedudukannya. Lantas apa yang harus kita bingungkan? Berangkat dari fenomena ini saya mencoba menawarkan sebuah solusi agar menempatkan tiga bahasa tersebut sesuai kapasitas sehingga menjadi penting pada tempatnya masing-masing.
Dengan demikian tiga komponen bahasa ini akan berjalan serentak tanpa ada yang harus merasa mengungguli. Lalu bagaimanakah aksi nyata kita dalam upaya penyelamatan bahasa Ibu dari kepunahan?
Di sinilah peran keluarga sebagai agen penting pewarisan bahasa Ibu harus lebih intens menyikapi keprihatinan ini. Sebab hanya dalam lingkungan keluarga lah proses inkulturasi dapat terjadi. Dimatangkan dari latar belakang keluarga untuk menghargai bahasa Ibu, maka ketika anak melebur dalam pergaulan sehari-hari di tengah tipikal masyarakat multietnis, pentingnya bahasa Ibu tidak akan pudar ketika bahasa Indonesia menjadi penting sebagai bahasa permersatu.
Sehingga tidak akan tercipta parasitisme antara pelanggengan bahasa Ibu dan penggunaan bahasa Indonesia. Upaya terpenting lainnya ialah dengan menanamkan kecintaan terhadap bahasa Ibu sebagai khazanah berbahasa dan berbudaya kepada anak. Menanamkan imej bahwa bahasa Ibu bukanlah bahasa kuno dan bahasa tertinggal yang memang harus ditinggalkan.
Contoh positif yang dapat kita saksikan dalam hal melestarikan bahasa Ibu ini sendiri adalah masyarakat etnis Tionghoa yang tetap menggunakan bahasa Cina sebagai bahasa pengokoh solidaritas kelompoknya.