Kiamat Komunikasi dalam Praktik Bahasa Ibu
- U-Report
Ini membuktikan bahwa bahasa Ibu bukanlah bahasa tertinggal yang dicap kampungan. Bahkan para masyarakat Tionghoa ini sendiri fasih dan kompak berdialog dengan bahasa Cina di kawasan-kawasan elit bisnis dan pusat kota metropolitan?
Di sini pula upaya dalam melestarikan bahasa Ibu agar tidak punah dapat dijadikan sandaran bagi anak-anak muda generasi penerus. Manfaat menguasai bahasa Ibu akan mampu menguatkan solidaritas kelompok yang berasal dari asal-usul suku yang sama. Sebagai contoh seseorang bersuku Jawa yang menawar dengan bahasa Indonesia akan mendapat harga pasaran umumnya.
Berbeda kondisinya jika orang tersebut menawar dengan menggunakan bahasa Jawa kepada pedagang yang memang berasal dari keluarga Jawa. Harga yang lebih murah ataupun potongan harga adalah konsekuensi dari In group feeling merasa senasib dan dari tanah kelahiran yang sama-sama berasal dari Tanah Jawa.
Kesimpulan yang dapat dirampungkan menatap fenomena ini adalah: dengan menggali hakikat di balik pentingnya bahasa Ibu maka dengan keahlian individu menempatkan bahasa Ibu, bahasa Indonesia, dan bahasa asing sesuai tempat dan kondisi. Maka bahasa Ibu tidak akan kalah pentingnya dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing, begitu pula yang berlaku sebaliknya.
Ketiga bahasa ini akan selaras berjalan beriringan tanpa ada satu bahasa yang merasa mengungguli dan mengabaikan bahasa yang lain. Dengan ini kekhawatiran bahasa Ibu yang mulai bergerak ke arah kepunahan dapat kita atasi dengan upaya penyelamatan sebagaimana yang telah saya jabarkan di atas.
Keluarga memegang peran vital dalam melestarikan bahasa Ibu agar tidak raib seiring berjalannya zaman dengan tak lupa menyisipkan upaya penyelamatan dengan menanamkan kecintaan pada bahasa Ibu, mengubah pola pikir bahasa Ibu adalah bahasa kampung dan kuno serta memberikan gambaran betapa pentingnya manfaat menguasai bahasa Ibu. Bahasa Ibu lestari, bahasa Indonesia semakin kokoh merangkul kebhinekaan serta bahasa asing tak dilupakan sebagai standar Internasional masyarakat dunia! Dan keyakinan yang harus kita genggam bersama bahwa pantang membiarkan kiamat komunikasi dalam praktik bahasa ibu. (Tulisan ini dikirim oleh Moch.Taufik Hidayatullah)