Dari Anak Jalanan hingga Menjadi Pengusaha Kreatif
- U-Report
“Uang itu hasil dari usaha yang lama, tabungan pribadi, dan sedikit dari kakak saya,” terang Yogi. “Banyak anak muda di sini kerjanya cuma mabuk-mabukan, tapi tidak ada penghasilan. Maka saya ajak mereka untuk belajar membuat kerajinan kulit ini,” cerita Yogi ketika pertama membuka galerinya. Yogi dengan sabar mengajari teman-temannya untuk membuat aksesori kulit layak jual. Bahkan, selama empat bulan pertama galeri kulitnya tidak menghasilkan uang sama sekali.
“Prinsip kerajinan saya adalah hand made. Jadi semua jahitannya dikerjakan tangan. Fungsi mesin hanya untuk membuat lubang saja,” jelas Yogi sambil menunjukkan jarum jahit dengan ukuran yang besar. Pemasaran yang dilakukan Yogi terbilang unik. Dia membagikan produknya kepada hampir semua anak muda di kampungnya. Kebanyakan berupa dompet dan gelang.
“Saya bagikan. Saya suruh mereka main yang jauh. Harapannya nanti ada yang tanya itu beli di mana,” ungkapnya sambil menirukan gaya calon pembelinya. Cara ini diakui belum efektif benar. Namun, cara ini diakuinya dapat menumbuhkan kegembiraan di tengah-tengah temannya. Sampai sekarang, galeri kulitnya hampir berjalan satu tahun.
Pesanan sudah mengalir deras. Biasanya, orang memesan strap jam tangan, gelang, dan dompet. Mereka mencari galeri saya karena harganya masih relatif murah. Beberapa pelanggan malah membeli grosiran untuk kemudian dijual lagi. “Urusan balik modal memang masih sangat jauh. Yang penting usaha ini jalan terus, karyawan ada penghasilan, dan galeri ini semakin maju,” harapan Yogi untuk galerinya.
Filosofi Kampung Jogonegaran terletak di balik hiruk pikuk jalan Malioboro yang tak kenal lelah. Jalan masuknya jarang terlihat karena lebih sering tertutup bus pariwisata yang parkir vertikal. Pada sore hari, remaja muda gemar duduk-duduk di muka gapura dan anak-anak bermain bola di jalan kampung yang sempit. “Ya, seperti itu kegiatan anak muda di sini. Nongkrong sambil melihat yang tua-tua jadi tukang parkir. Sebagai lahan basah parkir, di depan gang itu rawan gesekan. Anak-anak muda cuma melihat, tapi tidak ada kerjaan yang tetap,” kata Yogi menjelaskan keadaan kampungnya.