Dari Anak Jalanan hingga Menjadi Pengusaha Kreatif
- U-Report
Dari keseharian tersebut, Yogi merasa perlu ada yang memikirkan kelanjutan kampungnya ini. Yogi menggambarkan bahwa setelah tamat SMA, anak muda di Jogonegaran mulai meninggalkan kampung dan jarang peduli pada keberlangsungannya. Oleh karena itu, dia memberi nama galerinya “House of Makaryo”. Sebuah nama dengan corak urban yang kental, seperti kampungnya.
Bahasa Inggris digunakan untuk menambah kesan keren dan bahasa Jawa dipilih sebagai sesuatu yang sangat intim dengan warga Yogyakarta. Makaryo sendiri dalam bahasa Indonesia berarti bekerja. Harapannya, pemuda dapat selalu bekerja dan bukan sekadar penonton dari perubahan zaman.
“Rencana saya setelah menikah, bersama istri saya, saya akan membuat local branding. Jadi nanti terserah anak muda di sini mau buat karya apa, biar saya yang memasarkan, tapi ya baru rencana,” kelakar Yogi sambil membakar rokoknya lagi. Usaha yang dilakukan Yogi adalah bentuk konkret dari pemberdayaan kaum muda.
Di dalam arus ekonomi yang meluas, kreativitas anak muda adalah energi yang besar. Upaya berdikari adalah jalan sunyi yang akan membuahkan hasil. Seperti kata Shakespeare, cara menjadi sukses hanya ada tiga. Pertama, tahu lebih banyak, bekerja lebih keras, dan berharap lebih sedikit dari orang lain, termasuk negara. (Tulisan ini dikirim oleh Agrangga)