Kisah Kakek Tua Penjual Pisang Keliling
Pendapatan Pak Mus terbilang sangatlah rendah, dengan 80 ribu sampai 130 ribu rupiah per hari. Bersyukur adalah kunci yang ia jalani. Alhamdulillah Pak Mus sudah berhasil membuat anak-anaknya mengenyam bangku pendidikan.
Alya adalah anak pertamanya yang sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Bogor. Alya adalah anak perempuan Pak Mus yang menjadi orang kedua dalam menjaga adik-adiknya. Selain itu, Alya juga yang membantu perekonomian keluarga Pak Mus.
Bermodalkan kreativitas, kini Alya sudah membuka usaha online. Keuntungannya bisa dibilang melebihi pendapatan dari bapaknya. Alya selalu bekerja sama dengan orang tuanya atas usaha yang dijalaninya. Faktor utama yang membuat Alya melakukan usaha ini adalah karena ingin membantu dan mengurangi beban yang dipikul oleh bapaknya. Serta menerapkan ilmu yang ia dapat dari pembelajarannya di universitas negeri di Bogor itu.
Alhamdulillah, adalah kata yang selalu diucapkan oleh Pak Mustofa. Karena ternyata tidak sia-sia perjuangannya untuk kelima orang anaknya. Alya sudah mampu memberikan uang saku untuk adik-adiknya yang masih terbilang kecil.
Usaha yang dijalani oleh Alya adalah membuat keripik pisang cokelat yang memiliki pendapatan 300 sampai 450 ribu rupiah per harinya. Namun, Alya belum bangga, karena pengorbanannya belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang telah dilakukan oleh bapaknya. “Bapak memiliki semangat tinggi untuk menghidupi saya dan adik-adik,” ujarnya.
Sanak saudara Pak Mustofa sangat kurang memperhatikan kelima anaknya. Mereka tidak memiliki rasa untuk memperlakukan anak-anak Pak Mus layaknya saudara. Mungkin inilah perihnya hidup. Sudah jatuh, tertimpa pula kayu. Cuma semangat yang mendampingi Pak Mus untuk tidak menyerah dalam menghidupi anak-anaknya.
Jikalah nanti kaki sudah tak kuat untuk melangkah dan tangan yang tak lagi mampu untuk mendorong beban usahanya, Pak Mus selalu mengatakan kepada anak-anaknya untuk tidak menyerah begitu saja. Lawan dan yakinlah bahwa hidup itu harus dijalankan bukan hanya dipikirkan.
Dan tidak lepas dari doa, ia selalu meminta kepada yang Maha Kuasa untuk memberikannya kekuatan. Mustofa juga sering mengajari anaknya untuk selalu hidup berbagi kepada orang yang lebih membutuhkan. Agar kelak anak-anaknya bisa menjalani hidup yang tak penuh kemewahan. (Tulisan ini dikirim oleh Azhar Achirul Muchlis, mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta)