Garda Bangsa dan Program Deradikalisasi
- VIVAnews/Fernando Randy
Padahal, kondisi Timur Tengah dengan Indonesia jelas memiliki berbagai perbedaan. Dari sisi sejarah berdirinya Negara hingga karakter orangnya juga berbeda. Jadi, sebuah kesuksesan teori di negara tertentu belum tentu bisa sukses diterapkan di Indonesia. Intoleransi dan radikalisme juga terpicu dari sistem pendidikan yang diterapkan selama ini. Wajah perilaku masyarakat saat ini tak lepas dari sistem pendidikan yang diterapkan puluhan tahun lalu.
Penulis mengamati, sistem pendidikan di Indonesia masih sebatas pengajaran. Belum sebenar-benarnya pendidikan. Pendidikan itu dalam bahasa Arab adalah tarbiyah. Kalau pengajaran adalah taklim. Kalau pengajaran itu hanya memberi informasi. Para murid diberi informasi mengenai mata pelajaran matematika, biologi, bahasa Inggris dan seterusnya. Sekolah lebih mementingkan pelajaran.
Lihat saja, rapor para siswa saat ini yang diutamakan masih sebatas pada prestasi belajar, bukan prestasi pendidikan. Nilai pelajarannya sangat bagus. Ada nilai matematika, bahasa Inggris dan lain-lain di atas 9. Tapi masalah perilaku, seperti kejujuran, kebaikan dan kedisiplinan, nilainya hanya ada tiga, A,B dan C. Tidak dinilai angka seperti mata pelajaran. Artinya soal perilaku itu dianggap tidak penting. Yang dianggap penting hanya soal kepintaran mata pelajaran.
Akibatnya, banyak orang berpendidikan tinggi tapi tidak berakhlak. Sementara yang bisa mengubah perilaku adalah pendidikan. Pelajar tapi tidak terdidik. Banyak orang pintar tapi tidak memiliki akhlak. Untuk itulah, mempelajari sesuatu lebih baik ke substansinya. Ketika kita belajar agama maka tidak lagi belajar mengenai formalitas. Tapi harus mengarah pembelajaran ke substansi. Banyak ulama menyatakan bahwa substansi agama itu adalah akhlak.
Nabi Muhammad yang membawa agama Islam itu diutus untuk menyempurnakan akhlak. Artinya, sudah ada akhlak, tapi belum sempurna. Rasulullah menyempurnakan saja. Ibarat bangunan semua sudah tertata ada tumpukan bata. Rasulullah tinggal memasukan satu dua bata untuk melengkapi. Kita tak pernah mendapatkan kabar adanya tindakan/perbuatan Nabi Muhammad yang disertai dengan bentakan, apalagi sampai umpatan.
Sebaliknya, kalau pendidikan hanya mengajari formalitas maka menjadikan orang tidak berahklak. Kita tidak habis pikir, ada orang yang ingin terlihat Islami hanya dengan cara memakai serban, jubah, atau berjenggot. Dengan pakaian seperti itu, mereka meneriakkan takbir lalu menyakiti orang lain. Mereka mengucap takbir, tapi tangannya sambil merusak barang milik orang lain.