Surat untuk Luis Milla
- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Riedl yang memainkan pola dasar 4-4-2 dengan mengoptimalkan serangan balik jelas butuh stamina pemain yang bisa bermain penuh tenaga selama 90 menit. Namun, ketika masuk menit 70, fisik sebagian besar para pemain kita sudah mulai mengendur dan mulai kehilangan konsentrasi.
Yang kedua, bermain possession football ala Luis Milla, jelas bukan hanya sekadar menguasai bola seperti pola permainan Louis Van Gaal. Milla adalah orang spanyol yang memaknai possession football dengan bermain menguasai bola dan juga ruang dengan indah. Pola permainan ini jelas butuh pemahaman mendasar pemain mengenai bagaimana menyusun serangan dari lini paling belakang permainan tim. Dan juga butuh penguasaan konsep ruang dalam sepakbola. Masalahnya, bagaimana pemahaman para pemain kita mengenai dua hal tersebut?
Kalau boleh jujur, hampir sebagian besar para pemain di negara ini kurang begitu menguasai dua hal tersebut. Kita lihat saja, bagaimana kiper-kiper kita masih menganggap kalau bola ditendang jauh melebihi garis tengah adalah hal yang benar, meskipun bola itu jatuh ke penguasaan lawan. Lalu bagaimana barisan defender kita memahami peran bek dalam membangun serangan, terutama peran mendasar bek tengah? Masih sangat minim.
Bicara penguasaan ruang, para pemain tengah kita sendiri kadang tidak bisa mencari ruang kosong, apalagi menciptakan ruang. Para striker kita juga kerapkali terlihat kebingungan jika dimarking dengan ketat oleh barisan belakang musuh. Baik man to man marking maupun zona marking.
Yang jelas, tulisan ini bukan bentuk pesimisme apalagi sinisme. Tapi sebenarnya saya ingin Luis Milla tahu, jika sebelum dia menerapkan apa yang sudah dia punya dan dapatkan dari sepakbola Eropa, mau tak mau dia harus sedikit ikut campur dalam hal-hal teknis mendasar dalam permainan sepakbola yang sebenarnya bukan tugas dia. Karena jika dia ingin menerapkan permainan seperti yang diinginkannya, hal tersebut menjadi syarat mutlak.
Harapan besar masyarakat Indonesia ada padamu, Luis Milla Aspas. Nikmati tugasmu yang baru mulai 8 Februari nanti. Salam satu jiwa, Indonesia! (Tulisan ini dikirim oleh M Baihaqi Nabilunnuha, Kediri)