Bhinneka Tunggal Ika yang Sebenarnya
Walau saya seorang Muslim dengan sikap dan perilaku ibadah yang masih jauh dari sempurna, tapi saya berusaha menjadi lebih baik setiap hari demi keluarga, agama dan nusa bangsa. Karena buat saya, perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata. Dan kita harus adil sejak dalam pemikiran, konsisten antara ucapan dan tindakan.
Saat tulisan ini Anda baca, saya masih terus merenung sambil membaca postingan di ratusan grup WA yang saya ikuti. Tentang masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah gempuran globalisasi yang bisa menyesatkan dan invasi nekolim neoliberalime yang mendisintegrasi bangsa.
Serta prihatin atas nasib ratusan juta rakyat yang pasti kian resah akibat kenaikan harga kebutuhan pokok yang menggila dan berbagai perlakuan diskriminatif. Seperti tak kunjung ditahannya si penista agama Islam, dan berbagai upaya saling lapor, saling sikat, buka-bukaan antar kelompok kepentingan. Termasuk juga rumor deras kencangnya fitnah dan kriminalisasi kepada para alim ulama.
Buat saya dan teman-teman terdekat, isu Pilkada 2017 tak menarik lagi. Karena hanya menjadi ritual rotasi kekuasaan antar faksi elite yang saling bergantian menikmati menjarah kue kekuasaan pembangunan. Dan pada akhirnya selalu meminggirkan rakyat yang kian tak berdaya.
Izinkan saya akhiri renungan dini hari ini dengan sebuah kutipan favorit sejak lama, "All the power on earth can't change destiny," by Mario Puzo, Godfather. Tak akan ada kekuasaan yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Gusti Allah mboten sare! (Tulisan ini dikirim oleh Ricky Tamba, Jakarta)