Meredupnya Era Musik sebagai Bentuk Kritik
- Pixabay/Pate Linforth
Seperti halnya dengan teori kultivasi media, yang mendeksripsikan bahwa media menghasilkan sebuah dampak di mana ada sebagian masyarakat yang menganggap dunia nyata (kehidupannya sehari-hari) berjalan sesuai dengan dunia yang digambarkan oleh media. Ataupun sebaliknya, menganggap bahwa dunia dalam media itu adalah realita. Jika dianologikan ke dalam sebuah lagu (percintaan), pendengar akan menganggap kehidupannya seperti ke dalam sebuah alunan lirik sebuah lagu cinta.
Hal ini yang dapat menumbuhkan mental melayu bagi para pendengar, terutama anak kecil yang sudah mulai terkontaminasi dengan alunan musik seperti itu. Maka tak jarang dapat dijumpai seorang anak usia SD yang sudah mempunyai pacar.
Melihat keadaan pasar, mungkin hal ini yang dikiblati sebagai materi utama dari album-album mereka. Apa mungkin karena kita memang benar melayu, yang suka mendayu-dayu, atau apa memang karena kuping melayu, suka yang sendu-sendu? Yang merupakan penggalan lirik “Cinta Melulu” dari Efek Rumah Kaca.
Lagu Cinta Melulu merupakan bentuk dari sebuah kritikan terhadap industri musik yang sedang berkiblat pada persoalan percintaan. Lagu ini sangat populer di kalangan anak muda yang menyebabkan kepopuleran Efek Rumah Kaca juga naik. Memang saya akui, Efek Rumah Kaca merupakan band yang vokal dalam menyuarakan kritikan. Baik untuk pemerintah, fenomena sosial, dan sebagainya.
Dapat dilihat dari karya-karyanya yang berjudul Mosi Tidak Percaya, Cinta Melulu, dan Hijau. Walaupun karya tersebut mengindikasikan sebuah kritikan, tetapi sang vokalis Cholil Mahmud, menerangkan bahwa karya mereka tidak bermaksud untuk mengkritik. Awalnya hanyalah representasi kegelisahan yang ternyata menghasilkan sebuah karya seperti itu.
Mungkin cara tersebut dapat ditanamkan dalam jiwa para musisi Indonesia, agar dapat menghidupkan kembali jiwa kritik masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Agar pemerintah dan masyarakat dapat bersinergi membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.
Walau Indonesia sempat dipimpin oleh rezim Orde Baru yang totalitarian. Keberadaan untuk berpendapat sangatlah suatu hal yang berbahaya, apalagi dengan mengkritik. Tetapi kita patut bangga terhadap musisi-musisinya yang melahirkan karya dengan berani untuk mengkritik pemerintah saat itu. Iwan Fals misalnya, salah satu yang sangat vokal mengkritik rezim tersebut.