Meredupnya Era Musik sebagai Bentuk Kritik

Ilustrasi grup band.
Sumber :
  • Pixabay/Pate Linforth

Banyak karya yang dihasilkan dari musisi yang akrab dipanggil Bang Iwan ini. Menurut saya, ia  lebih dikenal sebagai sosok musisi yang pemberani. Buktinya, pada zaman Orba. Dimana berpendapat bagi sebagian kalangan masih terasa segan, berbeda halnya dengan Bang Iwan ini. Ia malah melahirkan sebuah karya yang menampar pemerintah pada masa itu. Salah satu karyanya ialah Bento. Karya tersebut disinyalir bentuk suatu reprenstatif Bang Iwan terhadap Bapak Soeharto.

img_title Dikemas Groovy, “SELAMANYA” Kami Berdua x Alika Sattar Titip Pesan Jaga Hutan Lewat Musik

Selain Bento, ada Galang Rambu Anarki, Jangan Bicara, dan masih banyak lagi yang menjadi karya kritikan beliau. Dengan menggunakan diksi kata yang mudah dicerna, dan alunan musik yang bersinergi, karya Iwan Fals dapat menumbuhkan gelora semangat bagi pendengarnya. Maka dari itulah pada tahun 2002, Bang Iwan terpilih oleh majalah Time menjadi kategori Asian Heroes.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada masa kini, memang para musisi mulai mengikuti tren pasar dengan meninggalkan musikalisasi kritik. Tetapi sebagian musisi masih berada pada jalannya, walau hanya berada di sisi yang sepi. Salah satunya dari jalur Indie, selain Efek Rumah Kaca, karya dari Banda Neira yang berjudul “Tini dan Yanti” merupakan karya yang patut diapresiasi menurut saya.

img_title Remember Fest x Cube Concert: Arah Baru Pertunjukan Musik dan Industri Hiburan di Indonesia

Lagu tersebut diciptakan oleh mantan tahanan politik 65, yang diadopsi kembali oleh Banda Neira yang baru saja dirilis albumnya pada 30 Januari lalu. Lagu tersebut patut diapresiasi karena dapat menghadirkan nuansa tahun politik 65 tersebut. Salah satu penggalan liriknya ialah “La historia me absolvera”, kalimat dalam bahasa Spanyol yang artinya “Sejarah akan membebaskanku”.

Industri musik nasional saat ini memang berkiblat pada pasar dan pengusaha. Tetapi yang perlu ditekankan di sini ialah perlu adanya inisiatif dari para musisi untuk merevolusi industri musik nasional. Musikalisasi kritik itu perlu dilahirkan. Di samping untuk mengoreksi kinerja pemerintah, kritikan dalam bentuk balutan nada tersebut akan menghidupkan jiwa-jiwa kritik di masyarakat.

img_title Musik Indonesia Terus Berkembang, Apa yang Dibutuhkan Musisi Masa Kini?

Sebagian masyarakat memandang musik hanya sebagai sarana hiburan dan alat bersenang-senang. Padahal lebih dari itu, musik mampu membuat suatu negara memiliki kekuatan yang besar serta kejayaan. Sebaliknya, musik juga mampu mendorong kejahatan dan meruntuhkan Pemerintahan seperti kata Plato. (Tulisan ini dikirim oleh Achmad Al Fiqri)

Ilustrasi konser

Nostalgia Musik Era 90-an Gak Ada Matinya, Generasi 30-an Kini Menikmatinya dengan Cara Berbeda

Generasi 30-an kini punya cara baru menikmati musik nostalgia. Lagu era 90-an dan 2000-an kembali hadir lewat konsep hiburan yang lebih sesuai dengan ritme hidup mereka.

img_title
VIVA.co.id
1 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut