Bobroknya Pendidikan di Indonesia
- Pixabay
Namun pengelola pendidikan pun menawarkan harga tanpa memikirkan kemampuan dari pihak pengguna jasa pendidikan. Jelas ini akan memunculkan kesenjangan-kesenjangan bahwa orang kayalah yang bisa mendapatkan pendidikan. Pendidikan eksklusif dan elitis hanya akan menjadi santapan lezat bagi yang mampu membelinya. Dan hak-hak setiap orang untuk mendapatkan sekolah diingkari karena persoalan ekonomi lemah.
Apa jadinya? Perguruan Tinggi akan diisi anak-anak manja yang memiliki sudut pandang borjuis (kaum beruang) dan anti perubahan. Kebanyakan dari mereka datang ke kampus hanya untuk menunjukkan status sosial dan gaya hidup.
Sangat berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak orang miskin (kaum prasejahtera) yang bukan hanya sekadar meraih status mahasiswa, melainkan datang untuk membaca sudut pandang perubahan, karena mereka lebih merasakan arti penindasan.
Pendidikan elitis merupakan bagian dari sistem pendidikan yang sengaja disetting untuk melanggengkan penindasan. Yang tujuannya memproduksi manusia menjadi individualistik, materialistik, konsumeristik dan hedonistik. Paling bisa dilihat dari segi penggunaan gadget, kendaraan, fashion, pergaulan, dan sebagainya.
Penistaan Ilmu
Banyak sekali mahasiswa yang berprestasi di sekeliling kita yang seharusnya layak bekerja sesuai kemampuan dan mendapatkan hasil (uang), tapi justru tidak bisa bekerja. Ini karena rekrutmen tenaga kerja di negeri ini diwarnai manipulatif praktik suap-menyuap atau sogok-menyogok, terutama sektor PNS. Hal inilah yang membuat mengapa kita semua tidak harus heran jika orang kuliah tidak perlu serius, karena ilmu dilecehkan uang oleh nafsu bejat kekuasaan.
Kekerasan di Sekolah
Salah satu faktor yang sangat kuat dalam pembentukan karakter adalah lingkungan. Kekerasan akan mematikan mental bahkan mencutikan akal. Anak didik bisa saja terseret sehingga membentuk jiwa yang patuh dan tunduk pada kekuasaan. Mental inilah yang membuat anak bangsa menjadi pecundang.
Guru atau dosen (pendidik) yang membunuh karakter
Kediktatoran pendidik telah menjadi momok terbesar bagi para anak didik. Kaum pendidik semacam itu di antaranya yang membuat penulis dan teman penulis ketakutan saat melakukan proses belajar mengajar di sekolah. Penulis dan teman-teman penulis dapat menceritakan kebobrokan yang terjadi saat menjalani bangku perkuliahan.