Pemulung Ini Selalu Bersyukur Walau Hidup Serba Kekurangan
VIVA.co.id – Pagi yang cerah mengawali hari seorang lelaki paruh baya dalam memulai peruntungannya. Langkah-langkah kakinya yang sudah renta mantap berkeliling di sekitar Kota Baru, Tugu Jogja, dan Lempuyangan. Tak pernah ia mengeluhkan takdir yang sudah dijalaninya kini. Hidup serba sederhana, walau sudah menua tapi masih harus bersusah payah mencari nafkah.
Dengan gigih, tubuh Waluyo, demikian nama lelaki tangguh itu, memunguti satu persatu barang bekas yang nantinya akan dijual. Ia ungkapkan kembali kepada Arifin, Kepala Cabang Rumah Yatim Yogyakarta tentang tekadnya yang pantang menyerah menghidupi keluarganya.
Tak tanggung-tanggung, jarak yang ditempuh termasuk jauh untuk seorang manula, 10 km. Yang ada dalam benaknya hanyalah wajah keempat putra putrinya yang terus menyalakan semangatnya saat bekerja.
“Walau dalam keadaan kemiskinan, saya akan tetap berjuang untuk menafkahi keluarga. Terutama kepada empat putra putri saya. Saya berharap mereka menjadi anak yang sukses, tidak seperti bapak dan ibunya,” ungkapnya dalam wawancara tertulis.
Di mata keluarganya, Waluyo tetaplah seorang ayah yang luar biasa hebat. Bukan hanya karena kesetiaannya kepada keluarga, tetapi lebih dari itu, kesetiaannya sebagai hamba Allah. Getol mencari nafkah tak membuatnya lupa waktu untuk beribadah. Justru disadarinya bahwa sumber kekuatan utama dari Allah semata, sehingga Allah memberi berkah sampai hari ini.
Tak lupa ia bersimpuh ruku dan sujud mensyukuri apapun yang ia peroleh hari itu. Kumandang azan memanggilnya barang sejenak sebagai perjumpaan yang suci. Ia ingin di sisa hidupnya dapat dijalani dengan berkah. Dan suatu saat, ketika ia harus pulang ke hadapan Allah bisa dalam keadaan selamat. Tak mau ia merana dan merugi kedua kalinya.
“Saya hanya manusia biasa, dan saya tidak mau rugi dua kali. Di dunia saya sudah seperti ini, pastinya saya tidak mau di akhirat celaka,” tegasnya kepada relawan Rumah Yatim Yogya. Kesadaran berpasrah kepada Allah, menumbuhkan keteguhannya agar mencari rezeki dengan cara yang halal.
Ia tak pernah memedulikan berapa pun yang ia peroleh. Bahkan pulang dengan tangan kosong pun, ia tetap bersyukur hari itu masih dapat bernafas melewati hari-harinya. Tangan boleh kosong tanpa membawa apa-apa, tapi ia masih memunguti serpihan hikmah untuk menyongsong hari esok.