Kerennya Kacamata Politik Bangsa Ini
- Pixabay
Menurut Fadli, semangat politik dan agama yang tidak bisa dipisahkan sudah sejak awal diakui pendiri Negara. "Pernyataan Presiden Jokowi kurang tepat, bermasalah, dan bahkan historis. Indonesia bukanlah Negara agama, tapi itu bukan berarti agama harus terpisah dari kehidupan politik," kata Fadli dalam keterangannya.
Namun, hal itu belum dibenarkan oleh pengamat politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargen yang menyatakan bahwa pernyataan presiden pada saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara itu menegaskan bahwa agama mesti dipisahkan dari politik. Hal ini 100 persen dibenarkan oleh Boni Hargen. Karena mencampuradukkan urusan agama dan politik berpotensi membidani tumbukan sosial dan pertikaian mendatar alias konflik horizontal.
Boni mengatakan, kalau kita mau jujur, keindonesiaan kita saat ini justru sedang bergerak ke arah titik nol kalau kelompok politik berjubah agama terus dibiarkan melakukan provokasi politik dengan memakai bahasa dan simbol agama.
Berkaitan dengan pernyataan Presiden Joko Widodo tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin mengatakan, secara garis besar politik dan agama tak bisa dipisahkan. Agama dan politik menurutnya justru bisa saling menopang. Pemahaman tersebut menurutnya memang bisa menimbulkan masalah kebangsaan. “Kita memang bukan Negara sekuler, tapi juga bukan negara agama. Namun tetap agama menjadi landasan moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sosok pemimpin kita saat ini haruslah sehat berpolitik, seperti sosok Thalut yang Allah datangkan untuk membereskan masalah Bani Israil. Pemimpin juga harus elok, amanah, dan konsisten seperti sosok Nabi Yusuf Alaihissalam, ketika Allah turunkan untuk membereskan masalah bangsa Mesir. Selain itu, pemimpin haruslah seorang politisi ulung, konsisten dengan keadilan, ahli kemiliteran, memiliki jiwa kokoh, dan tidak gila dunia, seperti sosok Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu.
Seharusnya, yang dinamakan pemimpin itu bukanlah orang yang banyak omong di media, plin plan, suka kongkow di kafe-kafe sambil merokok, gila publikasi, merasa ringan dengan menipu rakyat, aktif berburu proyek-proyek Negara, sangat bahagia digaji besar, serta membangun konsumsi elite, terus menuntut kenaikan gaji dan tunjangan. Kalau tersangkut kasus hukum, sering bicara “saya tidak tahu” atau “itu bukan tanggung-jawab saya”, dan tidak risi bergaul dengan selebriti dan artis-artis. Gambaran itu bukanlah tipe pemimpin, tetapi sampah kehidupan.