Kerennya Kacamata Politik Bangsa Ini
- Pixabay
Perlu kita memahami masalah ini dalam konteks nasionalisme .Idealnya, Pemerintah Indonesia mempersilakan mereka untuk berembuk menentukan hukum kolektif di negeri ini. Pemberlakuan hukum-hukum ini sangat efektif untuk menghadapi hegemoni imperialis, kemajemukan kultural, dan penyakit korupsi.
Kalau kemudian ada yang bersuara lantang menolak ide seperti itu, bisa jadi karena mereka tidak tahu atau mereka orang suruhan para konglomerat yang sudah adem-ayem hidup makmur di atas segala penderitaan rakyat. Atau, bisa juga mereka antek asing yang memang bekerja dalam ranah keantekan, atau mereka adalah siapa saja yang dalam hatinya tertanam kebencian kepada Islam.
Minimal, dalam konteks keindonesiaan dan kekontemporeran, kita membutuhkan karakter pemimpin yang bersikap adil, pengasih kepada masyarakat kecil, ahli kemiliteran, politisi ulung, tidak gila dunia dan berani mati demi membangun kemaslahatan. Namun, adakah sosok pemimpin seperti itu?
Jika ada pemimpin yang kuat, kokoh, saleh, dan konsisten, niscaya kehidupan bangsa ini akan berubah. Sebab bangsa ini sedang menghadapi tantangan-tantangan berat, dari dalam maupun luar negeri. Hanya saja, di mana pemimpin seperti itu berada? Adakah dia dan kapan munculnya? Hanya Allah yang tahu.
Secara pribadi, maka solusi yang diminta ialah seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “Qulamantubillahi, tsummaistaqimu” yang artinya “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah. Jalani ajaran Islam secara istiqamah, termasuk amalan-amalan yang dianggap ringan. Sebab semua itu merupakan kunci eksistensi kehidupan kita. (Tulisan ini dikirim oleh La Erwin Hi. Mutalib)