Narkoba Beranak Pinak di Makassar
- Pixabay/the3cats
VIVA.co.id – Suatu hari, seorang pemuda datang dengan pakaian lusuh bertanya dengan nada pelan kepada bapak tua. Sebut saja namanya Baco. “Pak, di sini banyak dijual kemiri ya?” tanyanya. Pak tua hanya menjawab dengan santai, “Di sini tidak ada dijual kemiri. Kalau mau, di pasar banyak dijual. Di sini yang ada cuma Kampung Sapiria,” jawabnya.
Kemudian si anak muda bertanya lagi, “Kok kampung ini diberi nama Sapiria? Bukannya sapiri dalam bahasa Makassar artinya kemiri? Berarti di sini banyak kemiri, Pak?” tanya anak muda itu penasaran. “Begini, dulu di daerah sini memang banyak tumbuh pohon kemiri. Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak ada lagi pohonnya,” ujar pak tua.
Dengan nada pelan anak muda itu bertanya lagi, “Kirain di sini banyak kemiri. Jadi saya mampir ke sini mencari kemiri untuk tambahan bumbu penyedap rasa,” ujarnya. Tiba-tiba sang bapak tua berkata, “Kalau mau, di kantong celana saya ada yang lebih enak dari kemiri. Tidak usah dibeli, cukup Anda coba. Kalau enak, baru datang lagi ke sini dan itu sudah saya pasang harga. Tapi ingat, jangan sampai ketahuan orang ya!” jelas pak tua. “Iya, mari sini saya bawa pulang,” kata anak muda.
Akhirnya, pak tua memberikan bungkusan plastik dengan label penyedap rasa. Dengan tergopoh-gopoh si anak muda mengambil dari tangan pak tua, dan langsung pulang. Sampai di rumah, bungkusan plastik itu pun dibuka secara perlahan-lahan. Tampak serbuk berwarna putih bening.
Penasaran, ia pun mencoba, tapi tidak merasakan ada aroma kemiri. Yang ada hanya sedikit pusing kepala. Tapi si anak muda ini terus menikmatinya dan ternyata itu adalah narkoba. Karena merasa ketagihan, keesokan harinya anak muda itu kembali menemui si bapak tua. Dengan modus membeli kemiri berlabel penyedap rasa, akhirnya transaksi pun berlangsung.
Cerita di atas adalah sedikit refleksi tentang sebuah kampung yang dijuluki sebagai kampung narkoba. Namanya mungkin asing bagi penduduk di luar Makassar atau di luar Sulawesi Selatan. Tapi bagi masyarakat yang bermukim di Kota Makassar, tentu tidak asing lagi di telinga mereka.