Kongres PMII dan Fenomena Kekerasan
- VIVA.co.id/ Fajar Ginanjar Mukti.
Sejumlah catatan ritual-ritual kekerasan yang dilakukan dalam arena kongres PMII tentunya melenceng dari apa yang PMII perjuangakan selama ini. Pasalnya, hal ini tidak bisa dianggap bagian dari dinamika semata sebab wajah PMII hari ini adalah wajah Nahdlatul Ulama di beberapa tahun akan datang. Sehingga sudah saatnya Nahdlatul Ulama turun tangan untuk memberikan nasihat-nasihat kepada PMII agar segera berbenah dengan merancah sebuah solusi konkrit mengatasi ideologi kekerasan yang menyusup ke PMII.
Nilai-nilai toleransi yang selama ini menjadi dasar PMII dalam menjalanakan kehidupan organisasinya nampaknya tidak berlaku dalam kongres. Hal ini terlihat dengan karakter keras yang dibingkai dengan etnis dan emosi selalu muncul ke permukaan jika ada perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat di arena kongres adalah hal yang biasa-biasa saja. Namun, menjadi celaka jika tidak diselesaikan dengan debat dan diskusi, tapi malah menggunakan ideologi kekerasan.
Semestinya Nahdlatul Ulama tidak membiarkan hal ini begitu saja. Sebab berkembang sebuah rumusan pola hubungan PMII dan NU, yakni dikenal dengan “PMII sudah pasti NU dan NU itu belum tentu PMII”. Hal ini menggambarkan bahwa PMII adalah pemasok intelektual-intelektual NU. Maka pola-pola kehidupan PMII dalam perhelatan internal organisasinya adalah gambaran yang sama yang akan menjadi wajah NU di kemudian hari.
Saat ini, penulis melihat jika dalam kongres di Palu masih saja ada ritual-ritual kekerasan mewarnai maka tak ada jalan selain Nahadlatul Ulama harus turun gunung untuk membuat mekanisme perbaikan sistem pengkaderan yang menyangkut aspek penghayatan dan transformasi nilai-nilai gerakan yang dimiliki oleh pergerakan seperti nilai keislaman, aswaja, dan toleransi. (Tulisan ini dikirim oleh Abdul Rasyid Tunny, Ketua PMII FKM Universitas Muslim Indonesia)