Kongres PMII dan Fenomena Kekerasan

Kongres PMII di Palu, Sulawesi Tengah, Senin, 15 Mei 2017.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Fajar Ginanjar Mukti.

Kehadiran ribuan warga pergerakan di arena kongres bisa saja disusupi dengan kehadiran sejumlah warga bersumbu pendek. Hal ini dikarenakan pertarungan perebutan kekuasaan yang kemudian merobek nilai-nilai yang selama ini dijunjung PMII.

img_title Kolaborasi Cantik Human Resources dan Teknologi

Tampaknya pula kejadian ini bukan saja menimpa PMII, tetapi juga Nahdlatul Ulama. KH. Mustofa Bisri atau dikenal juga dengan panggilan Gus Mus ini memberikan arahan dengan tangisan di tengah-tengah arena Muktamar NU di Jombang kala itu. Bahkan beliau sendiri membaca sebuah headline surat kabar yang berjudul “Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh”.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam sejarah tercatat jelas bagaimana asal muasal ideologi kekerasan ini lahir. Saat PMII akan melaksanakan kongres pada Tahun 2008 yang saat itu dilaksanakan di Batam, sejumlah peserta kongres PMII yang tidak bisa berangkat ke arena kongres kemudian melakukan transit di Jakarta. Peserta kongres yang transit ini teridentifikasi berasal dari cabang-cabang  di Indonesia Timur. Mereka pun menduduki markas PMII di Salemba Tengah lalu kemudian melakukan sejumlah pengrusakan.

img_title Kisah Penjual Cilok dan Rumahnya yang Nyaris Hancur

Jika kita mundur beberapa langkah, kita bisa menemukan catatan buruk juga pada Tahun 2005 lalu. Tepatnya saat berlangsungnya Kongres PMII ke-XV di Bogor. Kader-kader PMII dari daerah yang sama juga melakukan perusakan karena tidak bisa pulang ke daerah asal sehabis mengikuti kongres. Hal yang serupa juga terjadi di kongres yang digelar di Jambi. Ada keributan antara cabang Ambon dan cabang Makassar. Bahkan keributan ini tersebar di Youtube dengan judul “Kongres PMII Ricuh”.

Kekerasan dalam kongres PMII sudah menjadi bagian dari ritual-ritual yang tidak perlu dan tidak pantas. Sehingga di beberapa media online mencuat kabar jika Ketua Umum PB PMII, Aminudin Ma’ruf tidak menampikkan akan adanya ritual-ritul tersebut. Bahkan Ma’ruf berpikir keras guna menghindari adanya ritual-ritual kekerasan di akhir masa kepemimpinan. Dengan menegaskan jika pelaksanaan Kongres XIX PMII yang digelar pada 15 Mei 2017 rencana awalnya akan digelar di Masjid Agung Kota Palu, Sulawesi Tengah.

img_title Cinta dan Cemburu

Pernyataan Ma’ruf ini menggambarkan bahwa adanya potensi terjadi kekerasan. Dan apabila kongres akan berjalan sebagaimana yang telah direncanakan oleh Ma’ruf selaku ketua PB PMII tetap saja diwarnai kekerasan, maka ada yang tidak beres dengan internal PMII yang harus dievaluasi oleh Nahdlatul Ulama selaku orangtua kepada anaknya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut