Pancasila sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa

Ilustrasi Pancasila.
Sumber :
  • Andri Prasetiyo

Tentu ini semua adalah cermin wajah demokrasi kita. Ketika nilai-nilai republik dan demokrasi belum menumbuh menjadi habituasi maupun basis sosial dari kehidupan politik kita. Ironisnya, semakin jauh kita terbawa oleh permainan politik bernuansa kebencian kultural, semakin jauh pula jalan kita untuk pulang ke tujuan utama negeri ini dibangun. Jalan pulang itu terletak pada prinsip bhineka tunggal ika, yang sejak awal ditanamkan oleh para pendiri republik.

img_title PDIP: Pancasila Harus Jadi Kompas Bangsa Hadapi Krisis Global

Sebuah prinsip yang membutuhkan lebih dari retorika untuk hidup bersama. Prinsip yang menekankan bahwa dalam kebersamaan, kebinekaan mensyaratkan penghormatan atas keragaman dan kesetaraan hak sebagai warga dalam dimensi sipil-politik, ekonomi-sosial, dan budaya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Banyak contoh dalam sejarah politik global, baik riwayat negeri-negeri adikuasa maupun negara-negara berkembang, yang memperlihatkan bahwa hadirnya lingkaran sosial bersama dan tumbuh ataupun redupnya nilai-nilai keberagaman dan kesetaraan menjadi kunci bagi jatuh dan bangunnya suatu negeri. Sementara itu menurut Amy Chua (2008) dalam Day of Empire menjelaskan, dalam riwayat panjang peradaban dunia, toleransi sebagai strategi peradaban menjadi kunci naik-turunnya peradaban negara-negara besar.

img_title Pancasila Kunci Memulihkan Kepercayaan Sosial di Tengah Krisis Global

Penghormatan atas kebhinekaan di suatu negeri dengan kesadaran merawatnya adalah energi hidup sebuah bangsa. Adanya penghormatan atas keberagaman sosial, bangsa kita memiliki perekat sosial yang membuat tiap-tiap warga yang ada di dalamnya masih berkehendak untuk tetap menjadi satu sebagai bagian dari ke-Indonesiaan kita.

Hari Lahir Pancasila

img_title Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 Dipastikan Siap Digelar, BPIP Ajak Seluruh Daerah Gelar Upacara

Sementara kesetaraan dari seluruh warga Indonesia juga harus dirawat dan dijamin dalam kehidupan bernegara. Dengan kesetaraan sosial, setiap warga dapat tetap menambatkan harapan akan masa depannya untuk bekerja membangun komunikasi sebagai sesama manusia yang sederajat dan terhormat. Di mana itu semua adalah mimpi. Bukan saja mimpi Martin Luther King Jr di Amerika Serikat, tetapi juga Soekarno, Hatta, para orangtua kita, ataupun kita semua di hati sanubari yang terdalam.

“Tantum religio potuit suadere malorum!” Demikian pernyataan Lucretius, yang terjemahannya: “Betapa hebatnya agama sampai bisa mendorong orang melakukan perbuatan jahat!” Apa yang disampaikan Lucretius itu sebagai kritik yang ditujukan kepada siapa pun pemeluk agama yang ucapan, sikap, dan perilakunya menyakiti orang lain atau suka berbuat jahat kepadanya, yang perbuatannya ini bertameng agama.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut