Persekusi Bukan Tindakan Agamais
- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Ketika ada perbedaan pendapat yang diiringi dengan kritikan, maka di situlah seninya berdemokrasi. Tetapi patut diingat, bahwa kritikan boleh saja namun jangan melanggar prinsip-prinsip etika. Di sisi lain, pihak yang merasa dikritik sebaiknya pula membuka diri dengan melihat dan membedakan mana kritikan dan mana penghinaan.
Akhir-akhir ini banyak penghuni bangsa ini gampang tersinggung dan malah cenderung baper dengan kritikan. Kritikan itu batu loncatan untuk kita berbenah. Misalkan saja, jika ada sebagian kalangan meminta Rizieq untuk pulang, ya itu sebuah kewajaran di tengah desas-desus kasus yang saat ini sedang panas di belahan bumi nusantara ini. Jika ada pula yang mengatakan, "Rizieq tak bernyali", itu juga kewajaran. Sebab sampai saat ini Rizieq tak kunjung pulang ke tanah air.
Munculnya berbagai kritikan ini intinya ada pada Rizieq yang tak pulang-pulang. Mohon kiranya juga tulisan ini tidak membawa penulis untuk menandatangani materai 6.000. Fenomena materai 6.000 akhir-akhir ini cenderung lekat pada persoalan penghinaan. Atau bisa pula dalam pandangan lain, penulis melihat fenomena materai 6.000 melekat pada kaum anti kritik. Segala sesuatu yang sifatnya mengkritik maka dianggap sebuah penghinaan.
Singkat cerita, penulis hanya ingin menegaskan bahwa siapapun dia, agama apapun dia, warna kulit apapun dia wajib patuh pada hukum yang berlaku di negeri ini. Dan kebodohan yang hakiki itu ada pada kesewenang-wenangan itu sendiri. (Tulisan ini dikirim oleh Abdul Rasyid Tunny, Makassar)