Korupsi Makin Merajalela, Seorang Gubernur Terjerat Lagi
- http://www.blogpakihsati.com
VIVA.co.id – Kehebohan terjadi lagi soal gubernur Bengkulu dan istri yang terjerat Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi. Menjadi mencengangkan, karena ini dilakukan dalam bulan suci Ramadan, di mana semua umat Muslim menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.
Sebagaimana kita tahu bahwa makna berpuasa salah satunya untuk bisa mengendalikan diri, selain untuk meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Seharusnya dalam bulan puasa ini, umat Muslim bisa mengendalikan diri. Minimal bisa menahan hawa nafsunya, untuk tidak melakukan hal yang membatalkan makna-makna puasa.
Korupsi seakan menjadi hal yang lumrah terjadi di kalangan pejabat dan lingkarannya. Tidak mengenal waktu dan tidak mengenal jumlah uang, kapan pun bisa terjadi. Seakan korupsi telah menjadi kebiasaan yang dilakukan kalangan elite untuk memperdagangkan kekuasaan dalam melaksanakan programnya.
Biasanya, orang yang melakukan perbuatan korupsi mengetahui kalau perbuatannya itu salah. Tapi cenderung mengabaikan, karena ada dorongan pragmatis semata yang ada dalam pikirannya. Banyak faktor yang menyebabkan para pejabat melakukan tindakan yang merusak tatanan moralitas. Faktor yang paling dominan yang menyebabkan orang, atau pejabat melakukan korupsi di antaranya adalah karena punya kesempatan.
Faktor lainnya, karena ia tidak bisa mengendalikan diri dalam melihat situasi yang memungkinkan melakukan korupsi. Tidak memiliki prinsip hidup yang kuat yang menggabungkan nilai ilahiah dengan nilai duniawi. Berpikir dengan tidak menggunakan akal sehat, karena yang ada dalam pikiran orang yang melakukan korupsi adalah pragmatis dan cenderung menginginkan sesuatu yang instan. Mereka memilih mendapatkan uang dengan cara mudah karena memiliki kekuasaan, dan tidak peduli sekitar yang dirugikan dengan perbuatannya.
Bulan Ramadan seakan tidak bisa membuat mereka untuk menahan hawa nafsunya. Sebaliknya, malah menjadi dorongan bagi para pejabat untuk melakukan korupsi. Ini menandakan adanya krisis moral yang melanda sebagian pejabat negara kita, yang masih berpikir bias menggunakan kesempatan sebagai pemegang kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan sesaat. Mereka tidak peduli walaupun yang dirugikan adalah masyarakat.
Padahal di sisi lain, masyarakat sudah memberikan amanah suci kepada mereka sebagai pemimpin. Tetapi, apa mau di kata, sebagian pejabat kita banyak yang terseret kasus korupsi. Mereka tidak bisa menjaga integritasnya selaku pejabat negara untuk menjadi pemimpin sekaligus pelayan masyarakat.