Pernak-pernik Hari Raya Idul Fitri
- U-Report
VIVA.co.id – Pasca hari raya, semua orang berbondong-bondong berkunjung ke berbagai sanak saudara. Saling maaf-memaafkan, mengingat berbagai dosa dan kesalahan yang telah berlalu. Idul Fitri memang momentum untuk saling bersilaturahmi. Baik itu bertemu dengan keluarga, teman, sahabat maupun teman tapi mesra alias pacar.
Dalam literasi Islam, Idul Fitri adalah kembali suci. Ibarat bayi yang baru dilahirkan, belum tahu apa-apa, dan masih suci. Artinya, merajut kembali kehidupan baru. Budaya Hari Raya Idul Fitri yang sepertinya tidak akan terkikis oleh waktu adalah budaya balas dendam. Setelah selama kurang lebih satu bulan berpuasa, sekarang saatnya makan aneka makanan sebanyak-banyaknya. Salah satu makanan yang kebanyakan masyarakat sajikan yaitu ketupat.
Saya sendiri terkadang heran dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa bisa ya setiap momentum Hari Raya Idul Fitri ketupat selalu menjadi menu utama yang tersaji di meja makan. Bahkan tidak pernah ketinggalan. Kalau tidak ada hidangan ketupat, rasanya momentum hari raya itu hambar. Ibarat sayur tanpa garam.
Boleh jadi, simbol ketupat yang punya sudut empat mencerminkan bunyi Pancasila yang menjadi landasan di negara kita. Sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Bunyi sila pertama selaras dengan merayakan Hari Raya Idul Fitri, dan itu diaplikasikan dengan salat Id sebanyak dua rakaat.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Itu pun sudah kita penuhi dengan membayar zakat fitrah sebelum hari H. Dengan membayar zakat fitrah menjadi salah satu bentuk prikemanusiaan yang dilakukan kepada orang-orang yang kurang mampu tentunya.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Simbol persatuan itu juga bisa kita temui di Hari Raya Idul Fitri. Dengan satu kali seruan Allahu Akbar, orang-orang yang tidak hanya dari Indonesia, bahkan dari belahan dunia manapun, baik itu beda dari segi etnis, ras, budaya dan sosial selagi masih beragama Islam, maka persatuan itu bisa diwujudkan lewat momentum hari raya.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Sila keempat kita juga sudah berusaha untuk mewujudkannya lewat hari raya. Dengan cara apa? Dengan cara bersilaturahmi ke sanak saudara, teman, sahabat, bahkan pacar. Saling maaf memaafkan salah satu bentuk bahwa kita adalah warga yang merakyat tanpa pandang bulu.