Tiga Serangkai, Persahabatanku yang Tak Akan Pernah Terpisah
VIVA.co.id – Manusia adalah makhluk sosial, harus saling tolong menolong dan bahu membahu. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Semua manusia pasti membutuhkan pertolongan. Seperti aku, dan kedua sahabatku.
Ini kisahku, seorang pemuda yang memiliki dua sahabat yang sangat dekat, tapi jarang bisa berkumpul. Karena kami sudah disibukkan dengan rutinitas kami masing-masing sebagai pemuda yang sudah beranjak dewasa untuk meraih cita-cita dan masa depan.
Aku dan kedua sahabatku adalah satu dari sekian banyaknya persahabatan yang terjadi di dunia ini. Kami menjuluki diri kami, Tiga Serangkai. Awalnya, kami hanyalah anak sekolahan yang kenal begitu saja.
Namanya juga anak-anak, pasti inginnya terus bermain. Aku, Imam, dan Anul bertemu ketika kami masih SD. Karena berbeda sekolah, sebenarnya kami jarang bertemu. Sekali bertemu hanya ketika bulan Ramadan. Dan ketika itulah, kami sering mengobrol seputar kartun, game, dan lain sebagainya.
Hingga tanpa kami sadari, kami pun beranjak dewasa dan sudah memasuki masa-masa SMA. Namun sayangnya, kami masih jarang bisa berkumpul. Anul bersekolah di SMA, aku di SMK, sedangkan Imam masuk pesantren yang ada di Kota Solo. Kami masih bertemu hanya ketika bulan Ramadan saja.
Kami mulai menyadari kalau ternyata hubungan kami sudah lebih dari sekadar teman. Hubungan kami bertiga sudah seperti sahabat karib. Kami saling bertukar pikiran, bercanda, curhat, menolong satu sama lain, dan terkadang kami juga saling melakukan hal-hal yang cukup aneh. Contohnya seperti saat kami bertaruh siapa yang bakal dapat pacar lebih dulu. Tanpa kami sadari, ternyata Anul sudah memiliki pacar sebelum kami membuat taruhan itu. Hingga aku dan Imam merasa dibodohi oleh Anul.
Ketika duduk di bangku kelas 2 SMK, aku mulai berpikir nama apa yang cocok untuk kami bertiga. Tanpa berdiskusi dengan Anul dan Imam, aku langsung mengambil tindakan dengan menamai persahabatan kami dengan “Tiga Serangkai”. Ketika aku memberitahu pada kedua sahabatku, mereka setuju-setuju saja. Dari yang awalnya hanya berteman biasa, sekarang kami sudah menjadi sahabat. Kami saling melengkapi, membantu, dan menolong satu sama lain.