Haji dan Kebiasaan Baru

Aktivitas jemaah haji seluruh dunia saat mengelilingi Kakbah saat puncak ibadah haji tahun 2017.
Aktivitas jemaah haji seluruh dunia saat mengelilingi Kakbah saat puncak ibadah haji tahun 2017.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Twitter @HolyKaaba

VIVA.co.id – Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji tentu berharap agar hajinya mabrur. Karena haji yang mabrur memiliki pahala yang besar. Menunaikan ibadah haji merupakan kesempatan istimewa bagi umat muslim. Terutama bagi mereka yang berada di negara yang jauh dari Mekah. Ongkos dan biaya yang mahal menjadikan ibadah haji identik dengan kemewahannya tersendiri.

Mari sejenak menyimak sebuah kisah menarik berkaitan dengan haji. Pada masa Nabi Muhammad SAW, ada orang miskin yang ingin menunaikan ibadah haji. Ia rupanya telah mengumpulkan semua biaya ibadah haji itu selama 20 tahun. Namun, ketika dalam perjalanan mulia menuju Mekah, ia menyaksikan banyak kaum Muslimin yang sedang dilanda kemiskinan di mana-mana.

Tidak tega melihat saudara-saudaranya yang seiman sedang membutuhkan bantuan, ia pun kemudian mengurungkan niatnya ke Mekah. Selanjutnya, ia bagi-bagikan semua hartanya kepada mereka. Persoalan itu kemudian sampai ke telinga nabi dan nabi pun haru mendengarnya. Selanjutnya, nabi bersabda, “Hajimu sah dan kamu berhak masuk surga”.

Dari kisah di atas, menunjukkan bahwa rukun Islam kelima itu bukan hanya ibadah yang kaitannya dengan Allah (hablumminallah). Tetapi juga, ibadah yang menuntut terwujudnya kesalehan sosial (hablumminannas). Sehingga, dari perpaduan entitas tersebut mewujudkan kehidupan manusia yang baik (insan kamil).

Menunaikan ibadah haji merupakan bentuk ritual tahunan yang dilakukan kaum muslimin. Dilakukan dalam kondisi mampu untuk berkunjung dan melaksanakan kegiatan ibadah di tempat-tempat di Arab Saudi yang dikenal dengan musim haji (bulan Dzulhijah). Secara epistimologi, haji bermakna menyengaja, menuju dan mengunjungi. Sedang menurut istilah fiqiah adalah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan ibadah.

Menurut Ali Shariati dalam bukunya yang berjudul Haji, bahwa ibadah tersebut merupakan kepulangan manusia kepada Allah SWT yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak dipadankan oleh sesuatu apapun. Kepulangan yang merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta.

Sedangkan, pengertian haji mabrur, mengutip pendapat Jalaludin As Suyuti dan Muhyiddin Syarf An-Nawawi cukup kiranya untuk mendefinisikannya. Menurutnya, haji mabrur adalah haji yang diterima dan dibalas dengan pahala yang sangat besar yakni surga, yang mana, di dalamnya tidak tercampur kemaksiatan dan unsur-unsur riya.