Perjuangan Hidup Rusmiyati dengan Gerobaknya Tiada Akhir

Rusmiyati saat menerima bantuan.
Rusmiyati saat menerima bantuan.
Sumber :

VIVA.co.id – Tunawisma masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa Indonesia. Khususnya bagi aparat pemerintahan yang ada di ibu kota Jakarta. Karena hingga kini, tunawisma masih banyak berkeliaran setiap harinya menghiasi kota yang dulu dikenal dengan nama Batavia.

Bahkan, menurut beberapa sumber, Jakarta termasuk kota yang memiliki banyak gelandangan hingga menduduki peringkat ke-6 dunia. Salah satunya Rusmiyati, yang sejak menikah sudah menjadi tunawisma. Pertemuan dengan suaminya Heri yang berasal dari Kuningan, Jawa Barat tak mengubah nasibnya. Justru, malah membuatnya harus terlunta-lunta di jalanan ibu kota. Ia terpaksa menjadi tuna wisma karena tak ada biaya untuk mengontrak rumah apalagi membeli rumah.

Di tengah keterpurukannya yang tak memilki rumah, dia tak menggantungkan hidup untuk mengemis. Tapi, dia memilih mencari rezeki yang halal dengan menjadi pemulung. Setiap hari, dari jam 4 sore sampai jam 12 malam dia mencari rongsokan untuk dijual kepada penadah. “Kalau siang banyak yang nyari juga, kalau malam yang nyarinya sedikit,” paparnya.

Di keheningan malam, Rusmiyati dan Heri sibuk mengais-ngais sampah. Dibawa serta anak-anaknya yang masih kecil itu. Jika lelah dan kantuk menghadang, maka kedua anaknya ditidurkan dalam gerobak yang menjadi harta satu-satunya.

Miris, setiap malam kedua anaknya yang masih berusia  8 dan 5 tahun ini harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dan terpaksa tidur di gerobak. Selepas jam 12 malam, mereka pun akan mencari tempat kosong di jalanan untuk merebahkan diri hingga pagi menjelang dan hanya beralaskan koran dan kardus.

Sebenarnya, anak Rusmiyati ada tiga orang. Tapi, anak bungsunya diculik orang yang baru dia kenal satu minggu. Orang itu berprofesi sama dengannya dan bahkan sama tak memiliki tempat tinggal. Atas dasar kepercayaan, dia sudi memberikan anaknya untuk digendong oleh orang itu. Masih tergambar dalam ingatannya, wajah si penculik itu. Namun, dia tidak punya kemampuan apa-apa, hanya bisa meratapi nasibnya. “Mau dicari ke mana? Jakarta ini luas, Mba.” tuturnya sedih.

Dari kerja keras dia dan suaminya, Rusmiyati pun bisa mendapatkan uang untuk makan sehari-hari dan jajan anak-anaknya. “Yang penting anak-anak bisa makan dan jajan. Kalau ibu dan bapaknya mah enggak apa-apa tidak makan juga,” paparnya.