Perjuangan Hidup Rusmiyati dengan Gerobaknya Tiada Akhir
Karena kasih sayang kepada anaknya itu, dia pun sempat berniat menitipkan anak sulungnya ke saudaranya yang ada di kampung halaman di Banten. Agar dia bisa sekolah seperti anak-anak yang lainnya. Tapi sayang, anaknya tidak mau. Dia lebih memilih tinggal bersama dirinya. Hingga kini, anaknya yang sudah pantas bersekolah di SD itu, belum bersekolah sama sekali. “Ya, sekolah memang gratis, Mba. Tapi kan banyak bayaran ini itu,” ungkapnya.
Menjadi tuna wisma bukanlah pilihan hidupnya. Namun, dia tak memiliki pilihan lain selain itu. Untuk mengontrak rumah, dia tidak punya uang lebih. Untuk pulang ke kampung halaman, dia pun tak bisa karena tidak ada sanak dan saudara yang mampu menanggung beban hidupnya. Akhirnya, dia pun terjebak di ibu kota dan terlunta-lunta di jalanan. Entah bagaimana kelak nasib anak-anaknya, dan dia hanya bisa mengatakan, “Mungkin ini adalah takdir,” ungkapnya.
Sebagai bentuk kepedulian, Rumah Yatim datang menemuinya dan berharap dapat meringankan bebannya dengan memberikan santunan sembako. Meski tak seberapa, namun itu cukup menyenangkan hati Rusmiyati yang sudah sangat kelelahan. Santunan diberikan oleh Nurul dan Putri Nazla, karyawan Rumah Yatim yang sangat terharu dengan kehidupan Rusmiyati yang wajib mendapatkan bantuan dari pihak manapun. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)