Jenis Kemiskinan di Indonesia dan Solusinya
- REUTERS/Beawiharta
Dalam teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli, kemiskinan dapat dibagi ke beberapa kategori. Pertama, kemiskinan absolut. Yaitu kemiskinan yang dialami oleh seseorang atau sejumlah keluarga diakibatkan sudah tidak mampu lagi bekerja. Dengan kata lain, kemiskinan jenis ini dapat disebut dengan istilah fakir miskin.
Kedua, kemiskinan kultural. Yaitu kemiskinan yang terjadi di suatu wilayah tertentu diakibatkan budaya hidup miskin. Orang atau masyarakat miskin jenis ini biasanya memiliki mental “terima nasib ini apa adanya” kalau istilah orang Pangkalpinang, “Dek kawa nyusah”. Mereka tidak mau bersusah payah mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktu mereka untuk keluar dari kemiskinan.
Padahal, pemerintah sudah memberikan “pancingan” untuk keluar dari kemiskinan melalui program penanggulangan kemiskinan, baik di desa maupun di kota kepada mereka. Namun, karena budaya hidup miskin telah menyatu dalam diri, mereka tidak mau memanfaatkan hal tersebut dengan maksimal. Mereka merasa sudah cukup dengan kehidupan sekarang.
Ketiga, kemiskinan relatif. Yaitu kemiskinan yang diukur berdasarkan persepsi semata. Standar kemiskinan jenis ini tidak disandarkan pada indikator atau ukuran yang telah ditentukan oleh pemerintah. Contoh, salah satu indikator miskin versi pemerintah, yaitu lantai rumah masih tanah, dinding rumah dari papan, atap rumah masih dari rumbia dan masih banyak yang lain.
![]()
Di saat yang bersamaan, di rumah yang sama, ternyata si pemilik rumah memiliki satu buah motor dan televisi berukuran besar serta perabotan rumah yang cukup lengkap. Penilaian berdasarkan teori yang ada, jenis kemiskinan ini disebut dengan kemiskinan relatif.
Keempat, kemiskinan struktural. Yaitu kemiskinan yang diakibatkan oleh sistem dan kebijakan oleh pemerintah. Sebagai contoh, beberapa tahun terakhir pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mencabut berbagai subsidi, diantaranya dengan menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik.
BBM dan listrik sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, ketika barang tersebut dinaikkan harganya sudah pasti akan menambah beban masyarakat. Harga-harga sembako ikut naik, karena kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut.
Teori tentang kemiskinan di atas sebenarnya sangat membantu pemerintah dalam menyusun program atau kebijakan penanggulangan kemiskinan, baik di desa maupun di kota. Mari kita bahas satu persatu.