Memimpin Indonesia Tanpa Utang
- Halomoney
Namun, jika komitmen itu tidak ada, dengan dilanjutkannya kebijakan "utang dan utang", maka nihil hasilnya. Bukankah Tuhan sudah mengatakan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka” (QS. 13:11).
Di samping itu, pemimpin negara harus mempunyai kecerdasan di atas rata-rata masyarakatnya sehingga memiliki kepercayaan diri. Kecerdasan pemimpin akan membantu dirinya dalam memecahkan segala macam persoalan yang terjadi di masyarakat. Pemimpin yang cerdas tidak akan membiarkan masalah berlangsung lama, karena dia selalu tertantang untuk menyelesaikan masalah tepat waktu.
Dengan kecerdasannya, seorang pemimpin mampu mengelola sumber daya yang ada dengan semaksimal mungkin, baik itu sumber daya alam, yang saya rasa lebih dari cukup melimpah, maupun sumber daya manusia yang begitu banyaknya. Bukankah Tuhan menciptakan semua dengan penuh kebermanfaatan?
“Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kalian, sebagiannya untuk kalian kendarai dan sebagiannya untuk kalian makan. Dan (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kallian, dan supaya kalian mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kalian dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera.” (QS. 40: 79-80).
Dengan begitu, pendapatan per kapita sebagai salah satu indikator permasalahan juga dapat diwujudkan. Saat ini, pendapatan per kapita kita baru USD3.000 atau sekitar Rp40 juta per tahun atau rata-rata Rp3 jutaan per bulan. Tentunya masih jauh selevel Cina yang mencapai USD10 ribu, atau USD30 ribu selevel Eropa. Bukannya tidak bisa hal itu terwujud, asalkan terlahir dari komitmen seorang kepala negara. Jadi, jika saya boleh mengatakan, kandidat presiden harus mencanangkan "5 Tahun Tanpa Berutang".
Sebagai referensi mewujudkan negara tanpa utang, kita bisa mencontoh dari negara wilayah seperti Palau, Virgin Britania Raya, Brunei Darussalam, Liechtenstein, dan Macau, yang bisa hidup tanpa berutang. Negara-negara ini tidak membutuhkan pinjaman dari lembaga keuangan internasional untuk membangun infrastruktur.
1. Palau
Palau adalah negara kepulauan yang memiliki 300 pulau. Palau juga dikenal sebagai surga bagi turis yang hobi snorkeling. Populasi dari negara bebas utang ini hanya 21 ribu orang. Penduduknya beragam, yaitu 70 persen warga asli Palau, 15 persen orang Filipina, 5 persen orang Cina, 2 persen kulit putih, dan 8 persen Asia.