Partai Golkar Kritis, Apa Solusinya?
- VIVA/Muhamad Solihin
Ini menandakan, bahwa memang Partai Golkar solid secara sistem dan memang kader-kadernya tidak mengutamakan sosok personal ketua umum dalam menjalakan aksi kerja nyata melayani masyarakat. Distribusi kepemimpinan tidak terfokus pada pemimpin pusat, melainkan terfokus pada pribadi-pribadi kader yang berkualitas yang selalu mengedepankan sistem berpolitik dalam Partai Golkar. Ini mungkin yang menjadikan Partai Golkar saat ini masih tetap eksis dan diperhitungkan.
Walaupun demikian, memang wacana pemimpin baru Partai Golkar sudah menjadi keharusan untuk membalikkan opini negatif yang selama ini beredar di publik. Yang mengesankan bahwa partai Golkar identik dengan kasus korupsi. Padahal, kalau mau jujur dan terbuka, dalam kasus e-KTP semua partai memang terlibat. Bisa dilihat dari keterangan saksi yang menerangkan keterlibatan semua partai yang ada di DPR dalam kasus e-KTP.
Terkait kasus e-KTP, memang menjadi tugas utama KPK untuk terus memegang teguh dalam pemberantasan korupsi , untuk menegakkan dan menindak siapapun itu, dan saya menyakini selaku pemerhati sosial politik, bahwa KPK akan memproses semua yang terlibat dalam kasus e-KTP ini.
Kembali pada wacana pemimpin baru Partai Golkar, tentunya menurut hemat saya memang perlu secepatnya melakukan konsolidasi dan penyamaan persepsi untuk mencari jalan tengah. Apakah dengan melaksanakan Munaslub dan menghadirkan pemimpin baru bisa mengangkat moral dan kepercayaan kembali Partai Golkar.
Menurut sebagian besar orang, memang pergantian kepemimpinan itu menjadi hal yang mutlak dalam proses transisi saat ini. Mari kita lihat dan cermati. Ke depan, apa yang akan terjadi di tubuh Partai Golkar. Apakah akan muncul pemimpin baru yang bisa mensolidkan internal dan bisa mengangkat moril Partai Golkar? Semua menunggu perubahan di Partai Golkar. (Tulisan ini dikirim oleh Deni Yusup)