Politik Pencitraan, antara Pemberi dan Penerima Janji

Ilustrasi/Penolakan praktik politik uang atau money politic.
Sumber :
  • Antara/ Eric Ireng

VIVA – Sebagian masyarakat akhir-akhir ini mulai mengetuk kembali pembicaraan hangat seputar parlemen. Pembahasan itu dimulai dari strategi mempromosikan calon wakil rakyatnya, sampai pada pemujaan calon wakil rakyat. Bahkan, sebagian dari mereka bernostalgia pada masa lalu yang membanggakan.

img_title Bela Zulhas, Politisi PAN Sesalkan Ada Penggiringan Opini Negatif Terkait Video Makan di Aceh

Sementara itu, di sisi lain para calon wakil rakyat pun ikut mempromosikan dirinya sendiri. Mereka mulai menebar janji-janji, yang menurut asumsi masyarakat itu hanyalah janji yang mencederai nilai kejujuran dan kebenaran. Tebaran pesona dan kelincahan kata-kata mereka bagaikan harumnya minyak kasturi berlabel palsu yang tanpa berbekas tertiup angin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Figur-figur calon wakil rakyat yang bermunculan mempunyai banyak karakter. Mulai dari karakter orang suci, sampai pada karakter pembela masyarakat. Sehingga masyarakat pun merasa kebingungan untuk memilih siapa yang nantinya pantas diberikan amanah untuk mewakili rakyat di parlemen.

img_title Respons Istana Soal Tulisan Opini di Detikcom yang Dihapus: Naikkin Lagi Saja

Politik pencitraan saat ini adalah modal utama untuk mempromosikan dirinya sebagai seorang calon pemimpin yang suci, arif, dan bijaksana tanpa harus kehilangan identitas dirinya. Sehingga penulis meminjam istilah Dr.Yasraf Amir Piliang dengan sebutan Transpolitika.

Menurut hemat penulis, politik pencitraan seperti ini mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Penulis pun sepakat dengan Alm. KH. Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur yang memberikan pelajaran besar bagi bangsa ini dengan mengajarkan kepada kita bahwa yang terpenting dari politik adalah kemanusiaan.

img_title Penulis Opini di Detik.com Kritik Jenderal TNI di Jabatan Sipil Diduga Diintimidasi

Kalau politik sudah membabi buta dan mencederai nilai kemanusiaan, sudah tentu akan melahirkan pemimpin yang tidak ikhlas dalam membangun negerinya sendiri. Sehingga meski bertahun-tahun, bahkan berabad-abad kita berkomitmen selalu menjalankan sistem demokrasi Pancasila yang dititipkan Presiden Soekarno, namun kemaslahatan dan kesejahteraan umat jauh dari makna yang sesungguhnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Padahal, pada prinsipnya sistem demokrasi Pancasila adalah sebagai alat yang mengantarkan kita pada satu tujuan mulia yakni kemaslahatan dan kesejahteraan umat. Sehingga masyarakat bisa merasakan hidup  yang lebih sejahtera, bermartabat, dan mandiri dari waktu ke waktu. Tapi kenyataannya tak memberi efek tindakan demokrasi sama sekali.

Penulis berharap agar masyarakat Halmahera Timur khususnya, lebih jernih memilih dan memperjuangkan para calon pemimpin yang akan diberikan amanat untuk mewakili rakyat di parlemen nanti. Tentunya mereka yang memperjuangkan semua hak masyarakat Halmahera Timur, bukan mereka yang hanya peduli dan memperjuangkan kepentingan golongan. (Tulisan ini dikirim oleh Julkarnain Rajak, Makassar)

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa

Kemenkeu Raih Opini WTP ke-15 secara Berturut-turut dari BPK, Begini Kata Purbaya

Purbaya soal Kemenkeu raih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK, atas Laporan Keuangan Tahun 2025, dan menjadi opini WTP ke-15 yang diraih secara berturut-turut.

img_title
VIVA.co.id
16 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut