Haul, Keluarga Diponegoro Ingatkan Pemuda Jaga Indonesia

Haul Pangeran Diponegoro ke-163.
Haul Pangeran Diponegoro ke-163.
Sumber :

VIVA – Ancaman disintegrasi bangsa datang dari berbagai arah. Salah satunya disebabkan generasi muda saat ini mulai melupakan jasa para pahlawan dan semangat mereka dalam merebut kemerdekaan dari bangsa penjajah.

"Kita mendorong agar generasi muda saat ini tidak mudah melupakan semangat para pahlawan nasional yang telah berjasa besar dalam merebut kemerdekaan," ujar salah satu keturunan Pangeran Diponegoro, Amar Ahmad, saat menghadiri Haul Pangeran Diponegoro ke-163 di Jakarta, Senin, 8 Januari 2018.

Amar Ahmad merupakan keturunan kelima dari silsilah Raden Abdul Gani yang merupakan putra pasangan Pangeran Diponegoro dan Raden Ayu Ratnaningsih. Istrinya itu menemani Diponegoro hingga akhir hayat dan dimakamkan di Makassar, Sulawesi Selatan, dalam masa pembuangan oleh Belanda.

"Secara pribadi, Diponegoro memakai pakaian putih dan hijau. Ini memang warna kesukaan beliau. Namun, di baliknya ada pakaian dengan lurik Jawa," jelasnya lebih lanjut. Hal itu, menurutnya, Diponegoro memiliki semangat kedaerahan dan cinta tanah air. "Pangeran Diponegoro adalah seorang yang lahir dari keraton. Namun, karena ketidakadilan dan pajak yang mencekik masyarakat miskin di daerahnya, maka dia membangkitkan semangat melawan para penjajah," tegasnya.

Dalam Haul itu, keluarga besar mengundang sejumlah pembicara. Di antaranya sejarawan Anhar Gonggong, pengurus Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Lily Wahid yang juga adik Gus Dur, dan intelektual muda NU Ahmad Baso.

Anhar Gonggong mengungkapkan, Diponegoro merupakan sosok tegar dan memegang teguh prinsip. Sikap ini yang menjadi penghalang Belanda menguasai Jawa Tengah, khususnya di Tegal Rejo.

"Sebenarnya, tanpa harus melawan Belanda, Diponegoro sudah hidup enak bersama keluarga besarnya. Namun, dia memilih melawan akibat ketidakadilan dan kemiskinan yang kian menyengsarakan kaumnya," papar Anhar.