Kekurangan Jangan Membuatmu Menyerah
- ANTARA FOTO
Sesampainya di Lampung, Abah langsung menjalankan pengobatan yang bisa dikatakan bukan seperti layaknya medis. Orang-orang biasa menyebutnya pengobatan yang dilakukan oleh orang “pintar”.
Karena tak punya obat penghilang rasa sakit, maka Abah menggunakan metode mematikan nadi yang ada di tangan, agar Trisna tidak merasakan sakit ketika abahnya mengembalikan tulangnya yang patah.
Beberapa hari, minggu, bahkan bulan setelah diobati oleh Abah, Trisna merasa ada yang berbeda dengan tangan kirinya. “Warna tangan saya menjadi seperti biru atau ungu. Seperti berwarna busuk kan,” papar Trisna. Setiap ingin tidur, cermin di depan kasurnya selalu mengganggu penglihatannya. Karena tangan kiri yang sudah membusuk itu selalu terlihat olehnya, dan membuat Trisna ingin menangis setiap malam.
Orang tuanya mulai curiga ada yang tidak beres dengan pengobatan yang dilakukan oleh Abah kepada anaknya. Akhirnya, Trisna dibawa lagi ke rumah sakit untuk diperiksa. “Tangan kiri saya tulangnya sudah benar. Tapi kata dokter, darah tidak mengalir di tangan itu,” ujar Trisna.
Dokter menambahkan, bahwa nadi di tangan kiri Trisna tidak terdeteksi. Itulah penyebabnya mengapa darah tidak mengalir di tangan kirinya. Ibunya menangis dengan tersedu-sedu karena hal ini terjadi kepada anaknya. Bahkan, ia bertanya-tanya, mengapa kakaknya sampai bisa lupa untuk mengembalikan nadi Trisna ketika selesai diobati.
Dokter mengatakan, bahwa tangan kiri Trisna harus segera diamputasi sebelum menyebar ke tempat yang lain. Dengan berbagai nasihat yang disampaikan kepada Trisna, ia harus menerima tangan kirinya dipotong. Umur Trisna saat itu masih kecil dan harus menerima beban seberat ini. Sampai saat ini, Trisna akhirnya menggunakan tangan palsu agar ia tidak malu dengan keadaannya.
Singkat cerita, meskipun dilahirkan di Baturaja ia mengaku lebih enjoy dan suka tinggal di Tangerang khususnya di Gading Serpong. Karakternya lebih pendiam, berbeda dengan keluarganya yang lain yang lebih ceria. Dan dikarenakan Kota Baturaja kecil, Trisna sangat kesusahan untuk mencari peralatan yang ia butuhkan untuk fotografinya.
Menurutnya, dalam dunia film, teman-teman dari universitasnya memang lebih bersemangat dan semarak. Pengalamannya dalam dunia film-fotografi memang telah dirambah Trisna mulai masih SMA. Saat ia duduk di kelas 2 SMA, fotonya yang bertema human interest telah terpilih sebagai juara 3 se-kabupaten. Hal itu menjadi secercah sinar yang menerangi bahwa bakatnya adalah fotografi.