Pilkada Jalan Tengah

Kampanye Pilkada di Tegal
Sumber :
  • Istimewa

Artikel opini ini ditulis oleh Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. Rektor Universitas Paramadina

img_title DPR Usul Pilkada Hanya Pilih Kepala Daerah Tanpa Wakil

VIVA – Skema Pilkada Jalan Tangah merupakan inovasi dengan melaksanakan Metode Campuran. Tahap pertama adalah Tahap elektoral (rakyat) di dalam pileg, yang memilih 3 calon anggota DPRD dengan suara tertinggi di suatu daerah otomatis menjadi kandidat kepala daerah (gubernur / bupati / wali kota). Tahap kedua adalah  institusional (perwakilan). Setelah DPRD terbentuk, DPRD memilih satu dari 3 kandidat tersebut sebagai kepala daerah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Source : vstory

img_title Kesaksian Orang Tua Siswa soal Robohnya SDN Kebayoran Lama 09 Jaksel: Terjadi saat Libur Pilkada Jakarta Hujan Deras

Kelebihan pilkada metode campuran tetap dapat menjaga Unsur Kedaulatan Rakyat karena rakyat tetap menentukan melalui suara terbanyak di pileg. Kandidat kepala daerah tetap  punya legitimasi elektoral nyata, bukan hasil lobi elite semata.  Jadi metode campuran ini bukan kembali lagi ke masa Orde Baru, yakni pilkada tertutup, tetapi merupakan pelaksanaan demokrasi berlapis (two-step legitimacy) untuk menghindari pemilihan langsung yang tercemar kotor dengan politik uang.

Perbandingan 2 Cara Pilkada

img_title Legislator PDIP: Politik Uang Bisa Selesai dengan Perbaikan Regulasi, Bukan Pilkada Tidak Langsung

Aspek

Pilkada Langsung

Metode Campuran

Partisipasi rakyat

Tinggi

Menengah

Biaya politik

Sangat tinggi

Lebih rendah

Politik uang

Tinggi

Menengah

Peran DPRD

Lemah

Kuat

Risiko oligarki

Di kampanye

Di parlemen

Kualitas seleksi

Popularitas

Popularitas + institusi

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kelebihan lain dari Metode Campuran ini adalah menekan Biaya Politik yang Tinggi dan sangat mahal.  Pilkada langsung saat ini memicu biaya kampanye sangat mahal, bersaing dengan cara kotor, politik uang.  Proses pilkada  yang terjadi adalah praktek ilegal, pelacuran politik dimana yang memiliki uang dapat membeli suara dan setelah terpilih harus mengembalikan dana kampanye tersebut dengan cara korupsi.  Praktek demokrasi langsung seperti ini kemudian muncul ketergantungan kandidat pada cukong.  Tetapi dengan pilkada jalan tengah kandidat terpilih di dalam pileg, tidak ada kampanye pilkada dengan politik uang seperti biasanya.  Efek penting dari cara ini adalah mengurangi insentif “balik modal” setelah menjabat.

Kelemahan cara ini juga sangat gamblang, yakni ada potensi transaksi politik di DPRD. Pemilihan tahap kedua di level institusi berisiko lobi tertutup, barter jabatan, dan politik fraksi yang menyimpang. Risiko oligarkisasi dan cukong tetap ada, hanya berpindah arena. Pemilihan tahap kedua ada ketergantungan pada Kualitas DPRD. Dua faktor sangat menentukan dalam tahap ini, yaitu integritas anggota DPRD, dan transparansi proses pemilihan. Jika aturan main lemah dan DPRD korup, maka sistem apa pun tidak akan bermakna. Kita bisa kembali lagi ke pilkada langsung yang tercemar dengan politik uang dan pelacuran politik di lapangan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut