Muhasabah Nahdliyyin atas Nahdlatul Ulama
- Dok. Pribadi
Kabar gembira itu sempat menjadikan bangga bagi para alumni Lirboyo seperti saya ini. Ternyata almamaterku, pesantren luhur Lirboyo berhasil meng-islah-kan PBNU dan musyawarah kubro NU dengan elegan dan bermartabat.
Tetapi kegembiraan itu kembali terusik dan goyah oleh pernyataan Rais Am KH. Miftahul Akhyar sehari setelah acara islah di Lirboyo itu. Setelah mengisi acara doa bersama di Masjid KH. Hasyim Asy'ari Jakarta Barat, Rais Am menyatakan bahwa Ketum PBNU masih dijabat oleh PJ KH. Zulfa Musthofa dan bercerita kalau beliau sudah bicara langsung kepada Gus Yahya kalau keputusan pleno di Hotel Sultan masih berlaku. Jika menginginkan perubahan maka harus melalui mekanisme organisasi; sidang pleno babak kedua.
Setelah menyimak statement Rais Am itu, saya menjadi mempertanyakan kegembiraan saya atas pencapaian islah yang terjadi di Lirboyo itu. Seraya bergumam, apakah ada ketidaksesuaian antara realitas dan bukti material yang terjadi sebenarnya di lapangan dengan apa yang ada di dalam berita itu? Sebab dalam berita dikatakan kalau posisi Ketum PBNU dikembalikan lagi ke Gus Yahya, sedangkan setelah dikonfirmasi langsung kepada Rois Am tidaklah demikian.
Catatan saya; Rois Am nampaknya sedang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Di Lirboyo itu forum konsultasi yang berisi tabayun Rois Am dan Suriyah kepada para mustasyar, bukan forum yang lain. Kalau ada suara lain dianggap sebagai aspirasi kultural yang secara organisatoris tidak mengikat dan bukan keputusan apapun. Boleh dibilang hanya sekedar wacana biasa saja.
Lalu, ada secercah harapan muncul kembali ketika ada berita silaturahmi Gus Yahya bersama kubunya ke pesantren Miftahussunnah Rais Am KH. Miftahul Akhyar di Surabaya. Di sana sorot media menayangkan ritual cipika-cipiki, rangkulan, makan bareng, foto bareng, dan paling spektakuler adegan Gus Yahya menangis. Hadir pula Gus Ipul yang dianggap lawan berat Gus Yahya dalam kemelut PBNU. Seperti ada indikasi penyesalan. Berita bagus tampaknya.
Syahdan, meski sudah islah Lirboyo dan silaturahim di Miftahussunnah Surabaya, terasa semakin memudar dan buyar rasa bahagia saya itu setelah mendengarkan statemen Gus Yahya kalau Sekjen PBNU adalah Amin Said Husni, bukan Gus Ipul. Diperkuat lagi ketika Gus Yahya menghadiri Napak Tilas Berdirinya NU bersama Amin Said Husni yang dianggapnya sebagai Sekjen. Tentu saja ini akan mendapatkan respon serius dari semua elit PBNU khususnya dari Gus Ipul dan kubunya.