Muhasabah Nahdliyyin atas Nahdlatul Ulama
- Dok. Pribadi
Source : Ist
Seolah ini sudah berbalas pantun atau saling sahut-sahutan laksana burung-burung yang sedang berbalas, sahur manuk, antara Rois Am KH. Miftahul Akhyar dengan Gus Yahya yang mengindikasikan kandasnya harapan dan aspirasi yang dibangun di Lirboyo itu.
Setelah para elit PBNU sudah memberikan pernyataan masing-masing, rasa sedih kembali merajai hati saya. Ini bukan karena faktor apapun. Tetapi karena mungkin ini karena akar masalah yang paling mendasar yakni soal zionisme dan tatak keuangan yang tidak syar'i telah diabaikan dan menggunakan tekanan kultural yang tidak menghiraukan mekanisme organisasi.
Perasaanku kembali dijungkirbalikkan ketika membaca kata-kata sarkastik seperti setan, asu (babi), jancuk, tai (tinja kotoran manusia), boikot, dan serapah seraya mendoakan tidak berkah pada lembaga seorang kiai dan hal-hal buruk lainnya kepada para tokoh dan kiai yang mendukung keputusan Rais Aam dan Suriyah atas pemecatan Gus Yahya dari Ketua Umum PBNU. Seberapa keras persaingan dan konflik, kata-kata sarkastik itu tidak layak diucapkan apalagi dari seorang tokoh agama. Karena itu dilarang dalam agama. Mendoakan hal-hal buruk pada orang lain adalah perbuatan tercela menurut agama yang harus dihindari. Al-idza' lil ghair dzanbun; menyakiti orang lain adalah dosa.
Jika dalam menyikapi perbedaan dengan umpatan dan serapah serta kata-kata sarkastik maka itu sejatinya telah keluar dari harakah wa tsaqafah an-Nahdliyyah (gerakan-kultur NU) yang mengutamakan kelembutan argumentasi dan dakwah bil hikmah. Agaknya kata-kata sarkastik dalam menyikapi perbedaan agak mirip dengan gerakan FPI. Termasuk kaum muda NU dari gawagis sampai awam yang ikut terpapar.
Saya terus menata hati dan husnuzhan (baik sangka) menyatakan bahwa kalau itu bukan pernyataan dari para kiai, ulama dan masyayikh terhormat yang saleh dan sabar yang saban hari total waktunya hanya untuk mengaji, mengurus santri, dan menerima tamu atau santri yang mau konsultasi atau sekedar sowan ngalap berkah.
Para masyayikh, para kiai dan ulama saya meyakini mereka tidak sempat menganalisa mendalam atau sama sekali tidak tertarik pada persoalan kubu-kubuan dalam konflik, melainkan hanya ingin semuanya baik-baik saja dan jika ada persoalan diselesaikan dengan baik, tidak dengan kata-kata sarkastik.