Policy-Seeking Ala Bahlil Lahadalia
- vstory
Implementasi kebijakan ikonik B40, yang merupakan Bahan Bakar Nabati (BBN) campuran 40% minyak sawit dan 60% solar, secara efektif menekan ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar. Jika kebijakan ini sukses besar, maka semester kedua tahun 2026 kebijakan ini menjadi fondasi kuat bagi pemerintah untuk mencanangkan target “ambisius”, yakni menghentikan sepenuhnya impor Solar. Hal ini merupakan bentuk komitmen seorang pemimpin yang luar biasa terhadap pelaksanakan produk kebijakan yang krusial.
Ketiga, secara politik Bahlil mengutamakan implementasi ideologi Partai Golkar dan doktrin karya-kekaryaan, terlebih ia menjabat sebagai Ketua Umum. Partai Golkar sebagai arsitek demokrasi Pancasila yang berkarakter gotong royong sangat berkepentingan dalam perjalanan pembangunan nasional. Ideologi dan doktrin inilah yang menjadi motivasi dasar seorang kader dalam mencapai tujuan politiknya. Hal ini merupakan salah satu tipologi policy-seeking yang yang sangat beresiko, karena menempatkan ideologi dan doktrin di atas segalanya, bahkan seringkali mengorbankan dukungan publik dan jabatan demi meloloskan dan menformat ulang kebijakanya tersebut. Fenomena ini terlihat bagaimana sentiment publik dalam merespons beberapa kebijakanya seperti hilirisasi yang dianggap merusak ekosistem dan konsesnsi tambang untuk ormas. Dan fakta membuktikan, Bahlil tidak goyah hanya karena kritikan publik, dengan lugas dan tegas ia konsisten dengan kebijakan yang ia ambil meskipun beresiko tinggi.
Produk Kebijakan dan Narasi Kedaulatan
Policy-seeking adalah perilaku aktor yang memprioritaskan kebijakan substansial di atas sekadar segalanya. Sebagai orang lapangan yang taktis, Bahlil sangat memahami bahwa di mata publik legitimasi politik bukan dari pencitraan melainkan dari “gol” yang dicetak di lapangan. Konferensi pers yang digelar bukan hanya laporan pencapaian angka, tetapi merupakan pernyataan politik bahwa produk regulasi yang ia rombak –mulai dari penyederhanaan perizinan hingga intervensi teknologi- bekerja secara efektif. Dengan kata lain, ia sedang memposisikan dirinya sebagai pemain kunci yang mampu memecahkan tantangan nasional terhadap ancaman krisis energi.
Dalam waktu yang bersamaan, Bahlil juga membidik sentiment positif masyarakat. Ia tidak hanya bicara pendapatan APBN, tapi juga dengan fasih ia memaparkan program listrik desa di 1.516 lokasi dan sambungan listrik gratis bagi 200 rumah tangga, peningkatan jumlah tenaga kerja, serta kemandirian di sektor ESDM. Strategi ini dengan sendirinya terbangun narasi bahwa produk kebijakan ekonomi “akstraktif” yang ia pimpin memiliki wajah humanisme yang kuat.