Policy-Seeking Ala Bahlil Lahadalia
- vstory
Dari kerangka tersebut, pernyataan Bahlil dalam konferensi pers mengandung pesan politik bahwa political marketing berbasis produk dan kinerja “performance based marketing” sangat penting sebagai solusi politik pencitraan di era digital saat ini. Ia menghindari populisme jangka pendek yang selama ini disajikan dalam berbagai opini seperti fokus hanya pada janji dan mengamankan citra untuk mempertahankan jabatan dan kepentingan elektoral tertentu. (Sutisna, N. 2024). Politik pencitraan dan entertainment yang selama ini menjadi strategi sentral dan menarik di ruang digital, media sosial menjadi arena utama dalam melakukan polesan-polesan para aktor, dianggap kurang mampu menjawab akar masalah yang terjadi di tengah masyarakat.
Dus, Bahlil merupakan aktor politik dengan model kepemimpinan yang instrumental, pragmatis, taktis, dan transformatif. Dengan jabatanya, ia mempunyai paradigma perubahan dan pembaharuan yang sangat fundamental yaitu dengan memformat ulang arsitektur ekonomi nasional di sektor ESDM. Ia tidak hanya memposisikan dirinya sebagai “office seeker ” atau “vote seeker” yang mencari populeritas belaka, melainkan dia menjadi sosok “policy seeker” sejati. Gaya Policy-seeking tersebut memperkuat daya tawar politiknya, ia tidak lgi dianggap sebagai pembantu Presiden tetapi juga sebagai arsitek kebijakan energi nasional yang memiliki hasil kongkrit.
Kendati demikian, kepemimpinan Bahlil berhadapan langsung dengan Challenge di masa depan, yaitu konsistensi dalam melaksanakan seluruh kebijakanya, dan memastikan bahwa semua kebijakan harus berdiri di atas ideologi, visi misi, dan doktrin partainya dengan karakter gotong royong yang bermuara pada terwujudnya Indonesia yang adil dan makmur sesuai dengan UUD 945.