Ketika DPR Mengutuk AS dan Inggris

Dubes AS Ralph Boyce, Dubes Inggris dan Ketua Komisi I Ibrahim Ambong pada 2003
Sumber :
  • Dok. Pribadi

Pagi itu setelah ramah tamah sebentar di ruang tamu, saya,  Duta Besar AS dan Duta Besar Inggris menuju ruang rapat pimpinan Komisi I.  Saya, sebagai Ketua,  ditemani Ishak Latuconsina (TNI/POLRI), Imam Addaruqutni (PAN), Astrid Susanto (KKI), Franhlin F. Kayhatu (TNI/POLRI), Burhan Mangenda (Golkar), Mashadi (PKS), dan Djoko Susilo (PAN), menerima mereka. Dalam pertemuan itu kedua duta besar menjelaskan mengapa negara mereka merencanakan menyerang Irak dan mengulingkan Presiden Sadam Husein. Alasannya karena Irak menyimpan senjata pemusnah massal dan melanjutkan program pengembangan senjata tersebut. Pengembangan akan membahayakan keamanan dan perdamaian di Teluk Persia. Disamping itu mereka menuduh Irak mendukung gerakan teroris internasional. 

img_title Shio Ini Diprediksi Banjir Rezeki dan Karier Makin Lancar, Ada Sosok yang Membantu

Kami tetap berpendapat bahwa penyerangan satu kepada negara lain tidak dapat diterima. Sama dengan Pemerintah, DPR menginginkan pendekatan secara damai, melalui jalan diplomasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pertemuan itu tidak menghasilkan kesepakatan. Walaupun demikian, DPR berpendapat ketiga negara tetap bersahabat. Duta Besar Boyce mengatakan “Kami mengerti, kami menghormati. Tetapi jika waktunya tiba, penting untuk mengerti posisi masing-masing. Mungkin kita tidak setuju, tetapi sebagai teman penting agar komunikasi tetap berjalan dan saling menghormati. Hari ini adalah contohnya. Tidak ada yang salah dengan perbedaan ini”.

img_title Sosok Trisha Eungelica, Putri Sulung Ferdy Sambo yang Bakal Jajal Dunia Musik, Bawakan Lagu Ciptaan Sang Ibu

Sementara itu Richard Gozney berkata bahwa Irak masih mungkin berubah sikap pada detik-detik terakhir menjelang penyerangan. “Irak masih bisa mengambil keputusan menyerahkan senjata pemusnah massal atau menyerahkan bukti-bukti yang sudah dihancurkan. Jangan berpikir harus perang, terutama kalau Irak menyerahkan senjata”, katanya.

Tetapi serangan ke Irak itu tidak terbentung lagi. Pada tanggal 20 Maret 2003 AS, Inggris, dan sekutunya yang lain menyerang Irak. Kemudian Presiden Sadam Husein ditangkap. AS sesungguhnya memandang Irak sebagai penghalang bagi kepentigannya di Timur Tengah, yaitu minyak dan menjaga keamanan Israel.  

img_title Jangan Telat, Ini Jadwal SIM Keliling 8 September 2026

Seruan Sekjen PBB, Koffi Anna, pada September 2004, bahwa serangan ke Irak tidak sesuai dengan Piagam PBB. Namun, seruan itu tidak berpengaruh.

Dari uraian nyatalah bahwa AS sampai saat ini melakukan sendiri apa menjadi hasratnya dan bersadarkan pada kepentingannya sendiri, sekalipun mendapat kecaman banyak negara. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut