Berkah Datang dari Keikhlasan
- vstory
VIVA.co.id – Ikhlas, adalah satu kata yang mudah diucapkan oleh siapapun dan di manapun. Kata ikhlas sering digunakan oleh seseorang dalam berbagai situasi atau keadaan.
Pengertian ikhlas sendiri menurut saya adalah rasa di mana kita sebagai manusia hidup untuk menyerahkan segala sesuatu nya kepada sang pencipta kehidupan yaitu Tuhan.
Menyerahkan segala nasib dan takdir hanya kepada Tuhan Semesta Alam, namun tetap menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya serta tetap berikhtiar dan berusaha sesuai dengan kemampuan dan kewajiban kita sebagai umat manusia.
Namun, dalam kenyataannya tidaklah semudah yang kita ucapkan. Terkadang manusia dapat berucap kata ikhlas dan menasehati manusia lain untuk senantiasa menanamkan rasa ikhlas dalam kehidupan akan tetapi apakah dia sendiri sudah benar-benar bisa memiliki ikhlas tersebut? jawabannya belum tentu.
Setiap manusia memiliki kemampuan dan tingkat kecerdasan serta daya pikir yang berbeda-beda, tidak dapat disamakan dengan manusia yang lainnya.
Begitu juga dengan tingkat keimanan atau ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun, perlu diingat kita sebagai manusia adalah memiliki derajat yang sama di mata Tuhan, manusia telah dibekali akal dan pikiran itulah sebabnya manusia derajatnya lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya.
Setiap manusia memiliki kemampuan untuk berpikir serta sama-sama memiliki kemampuan untuk memiliki rasa ikhlas dalam diri masing-masing.
Yang membedakan adalah tingkat kemauan untuk belajar ikhlas.
Semua manusia mampu untuk memiliki rasa ikhlas namun tidak semua mampu untuk mengamalkannya.
Sobat, saya ingin bercerita sedikit.
Ada sebuah kisah di mana ini dapat kita jadikan pelajaran hidup tentang arti dari keikhlasan.
Berawal dari pengalaman temen saya yang saat itu sedang dalam keadaan terlilit utang, teman saya ini sudah berumah tangga dan memiliki 3 orang anak. Kesehariannya adalah sebagai penjual sate di alun-alun kota tempat saya tinggal.
Pada suatu ketika dia datang ke rumah saya bermaksud untuk bermain karena memang kami sudah agak jarang bertemu, kemudian saya mempersilahkan dia untuk duduk lalu saya juga membikinkan dia secangkir kopi, dan kami pun kemudian ngobrol dan bercanda sambil ngopi bareng.