Semua Orang Pernah Menjadi Radikalis
- vstory
VIVA – Dimanakah Tuhan berada? Apakah Tuhan mempunyai rumah? Bisakah dede bertemu dengan Tuhan? Tiga pertanyaan mengenai Tuhan ini mewakili sifat mendasar dan mengakarnya pertanyaan yang dilontarkan seorang anak kecil, usia sekolah dasar. Demikian juga dengan pertanyaan terhadap asal muasal dirinya sendiri.
“Dari mana dede berasal?”
"Dari perut ibu?"
"Kok bisa tiba-tiba ada di perut Ibu?"
^=^&$#
Juga sejumlah pertanyaan lain yang tidak jarang membuat orang tua yang mendapatkan lontaran pertanyaan ini kewalahan untuk menjelaskannya.
Pertanyaan mendasar dan mengakar inilah menjadi ciri filsafat, yaitu (pertanyaan) radikal. Radikal sendiri berasal dari bahasa latin, yaitu radix yang berarti akar, dan pertanyaan radikal berarti pertanyaan yang mengakar. Filsafat juga sering diartikan sebagai cara atau seni bertanya (the art of asking). Dalam hal ini, bukan jawaban yang diutamakan tetapi bagaimana cara bertanya itu sendiri yang menjadi kajian filsafat.
Cara bertanya filosofis (mendasar dan mengakar) seperti di atas, sudah dilakukan di masa anak-anak, sehingga tidak salah kalau kita mengatakan bahwa kita semua pernah menjadi seorang filosof. Dan potensi besar dari daya kritis pada anak-anak ini sering kali tanpa disadari dimatikan oleh lingkungannya entah itu orang tua atau siapapun yang merespons pertanyaan-pertanyaan ini dengan sebuah reaksi kejengkelan yang bermanifestasi intruksi untuk diam, “Sttt… jangan banyak tanya”! atau ancaman atas ketidaksiapan dengan jawaban, “Jangan bertanya seperti itu!, pamali!, kuwalat!, murtad!”
Fenomena bahasa memang sangat menarik. Satu kata, seperti “radikal” tiba-tiba menjadi viral dan hikmahnya adalah semua dari kita kembali kepada potensi awal manusia, masa kanak-kanak, yaitu rasa ingin tahu yang besar dan seterusnya melakukan penelusuruan.
Sebelumnya sempat viral juga kata-kata, seperti: ahsyiapppp, hoax, nurhadi, garing, sontoloyo atau kalimat: Kids jaman now, di situ saya merasa sedih, penista agama, om telolet om dan lainnya.
Filsafat dianggap barang haram, bukan merupakan isu mutakhir. Dalam sejarah Islam, perdebatan antara 2 cendekiawan Muslim, yaitu Ibnu Rusyd dan Imam Ghazali untuk 3 persoalan tentang Tuhan, alam dan kebangkitan, seolah menjadi momentum menjauhnya filsafat dari mayoritas kalangan Muslim.