“Sunset” Bisnis Televisi Tidak Terbendung
- Pixabay/mohamed_hassan
Televisi sudah memasuki sunset business (bisnis yang mulai meredup). Ini memang tidak terbendung, sebuah keniscayaan, konsekoensi logis kemajuan teknologi informasi.
Oleh: Sihol Manullang, Penulis adalah wartawan Suara Pembaruan (1987-2000), kini pegiat di Liga Literasi Indonesia
Jakarta, VIVA – Di berbagai grup whatsapp belakangan ini, beredar daftar stasiun televisi yang mengurangi jumlah karyawan. Bukan hanya satu atau dua, tetapi semua stasiun televisi yang ada negeri ini merampingkan jumlah karyawan.
Ada apa dengan bisnis stasiun televisi sehingga semuanya mengurangi jumlah kru? Tak lain tak bukan, televisi sudah memasuki sunset business (bisnis yang mulai meredup). Ini memang tidak terbendung, sebuah keniscayaan, konsekoensi logis kemajuan teknologi informasi.
Kalau demikian halnya, maka fenomena ini perlu dipahami secara rasional. Perlu dicatat, apa yang terjadi pada bisnis televisi sekarang ini, bertahun-tahun lalu sudah menimpa surat kabar dan majalah cetak. Dibandingkan dengan akhir abad 20, sisa media cetak di dunia sekarang ini, tak sampai 40%. Lebih dari 60% sudah berhenti cetak.
Tulisan ini berusaha memahami pengurangan karyawan di semua stasiun televisi secara rasional. Untuk menggambarkan kemajuan teknologi yang berdampak besar pada media, terlebih dahulu mengurutkan kemajuan teknologi/industri telekomunikasi – yang membuat mayoritas media cetak berhenti terbit, karena iklan sudah direbut radio, televisi dan media daring. Kini media sosial menyedot belanja iklan, korbannya adalah televisi.
Korban Modernitas
Ilustrasi YouTube.
- Pixabay
Pramudya Ananta Toer dengan bahasa sederhana mendefinisikan modernitas: kondisi di mana yang kuat berkembang tanpa batas, dan yang lemah akan menjadi korban perkembangan tanpa batas. Di zaman ini, yang berkembang tanpa batas adalah teknologi. Maka yang bisa menerapkan teknologi, akan berkembang tanpa batas.
Salah satu korban awal kemajuan teknologi adalah operator selular analog, dilindas operator digital. Hal inilah yang dengan cepat disadari investor kawakan dunia George Soros awal 1990-an. Ia mengambil posisi short (jual lebih dulu) atas saham sejumlah operator selular analog di Benua Amerika.
Waktu Soros mengambil posisi short, Motorola (operator selular analog di Amerika Serikat) masih berjaya dengan teknologi Advanced Mobile Phone System (AMPS) yang diluncurkan sejak Oktober 1983. Namun Soros yakin, keuntungan operator ponsel analog akan kian menurun, hingga akhirnya tutup sendiri. Analog akan digantikan digital yang unggul kualitas dan lebih murah.