Hatiku Bukan Batu
- ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
“Pak, boleh tanya, ini akun Bapak sendiri?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Bapak seorang insinyur?”
“Betul, tapi saya sudah tidak kerja kantoran lagi.”
Saya tutup obrolan di atas dengan ucapan apresiasi dan terima kasih yang berbalas senyuman.
Di ruang Vstory VIVA.co.id ini, sebelumnya, saya pernah mengulas tentang bos ojol yang sekarang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Rasa salut saya bertambah kepada bos Gojek ini telah menyediakan pekerjaan alternatif buat masyarakat Indonesia.
Kekaguman saya lebih kepada alternatif pekerjaan yang ternyata tidak segmented untuk kalangan tertentu yang sebelumnya pengemudi ojek (pangkalan), didominasi oleh mereka yang tersisih dari dunia lapangan pekerjaan. Namun, saat ini pengemudi gojek lebih terbuka saja bagi mereka yang mau bekerja untuk diri sendiri. Self employee, begitu istilah dari Robert Kiyosaki ketika membagi pekerjaan ke dalam empat kuadran.
Sebelumnya, saya pernah bertemu dengan pengemudi ojol yang pekerjaannya adalah jual beli saham, kuadran lain dari Kiyosaki, yaitu investor. Mereka yang mempunyai kebebasan waktu dan finansial. Kala itu sang pengemudi bercerita, pekerjaan sebagai pengemudi ojol dia lakukan hanya untuk mengisi waktu, sembari melakukan aktivitas antar jemput anaknya, sambil mengamati pergerakan saham. Dia juga bercerita punya kantor konsultan di bidang SDM.
Nah, kembali kepada trending topik yang saya baca tadi pagi, adalah wajar kegerahan warganet yang disampaikan kepada sang diva. Ketika komparasinya antara pilot dan pengemudi ojol terkesan meremehkan pekerjaan yang justru saat ini diminati oleh berbagai kalangan, status, dan kelas di masyarakat Indonesia.
Sebagai penerima manfaat rutin dari ojol ini, saya kembali harus mengucapkan selamat buat Pak Nadiem dan para penggiat ojol di Nusantara. Dan semoga, setelah beberapa kontroversi sebelumnya, sang diva bisa terbuka pikirannya atas profesi ojol karena saya yakin seperti salah satu lagu hits-nya, Hati Sang Diva Bukan Batu.