Media Sosial Pendidikan dalam Bencana
- vstory
VIVA – Hasil penelitian UNESCO menyimpulkan 4 dari 10 orang Indonesia aktif di media sosial (medsos). Hal ini disampaikan www.kominfo.go.id dalam artikel "Angka Penggunaan Media Sosial Orang Indonesia Tinggi, Potensi Konflik juga Amat Besar". Menurut artikel tersebut, tingginya penggunaan media sosial membuat risiko penyebaran konten negatif serta pesan provokasi dan ujaran kebencian menimbulkan konflik sangat besar.
Risiko penyebaran konten negatif itulah yang membuat beberapa orang antipati pada medsos. Karenanya medsos harus dihindarkan. Padahal sebenarnya tidak demikian faktanya.
Faktanya, karena jumlah penggunanya yang besar sebenarnya medsos potensial jika dipergunakan sebagai sarana pendidikan. Apalagi saat wabah corona mengancam seperti sekarang. Medsos dapat dimanfaatkan guru sebagai sarana penunjang proses belajar di rumah yang diinstruksikan pemerintah.
Instruksi belajar di rumah ini disampaikan dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2020. Menurut surat edaran ini selama corona belum dapat dikendalikan, proses belajar di sekolah harus dialihkan ke rumah. Terkait belajar di rumah ini, dalam surat edaran tersebut disampaikan empat ketentuan.
Pertama, belajar dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar bermakna.
Kedua, belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup mengenai pandemi Covid-19.
Ketiga, aktivitas dan tugas pembelajaran belajar dari rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah.
Keempat, bukti atau produk aktivitas belajar dari rumah diberi umpan balik bersifat kualitatif tanpa diharuskan memberi skor.
Langkah pemerintah mengalihkan pembelajaran dari sekolah ke rumah ini memang tepat. Dalam pembelajaran tatap muka, memang sangat dimungkinkan terjadi penyebaran corona di sekolah.
Di samping itu, pihak sekolah juga pasti juga kesulitan mendeteksi agen-agen pembawa virus corona di sekolah. Bisa jadi agen itu dari siswa. Dapat juga dari guru. Bahkan mungkin juga dari orang tua yang mengantar jemput siswa ke sekolah.
Karenanya, intruksi mengalihkan pembelajaran sekolah ke rumah harus disambut hangat. Secara logis kebijakan ini berpihak pada kesehatan semua warga sekolah.