Menjadi Guru, Tersesat di Jalan yang Benar
- ANTARA FOTO/Ampelsa
VIVA – Sejak pandemi Covid-19 saya akhirnya tahu mengapa anak-anak saya mengidolakan guru A, dan tidak begitu nyaman dengan guru B. Memang di sela-sela kesibukan saya yang juga sebagai guru, saya selalu menyempatkan diri mendampingi anak-anak saat belajar daring.
Saya pun ikut mengintip guru dari anak-anak saya sewaktu mengajar secara virtual. Peran sebagai guru kedua saya lakukan demi anak-anak saya agar semangat belajar mereka tidak menurun selama belum dilakukan pembelajaran tatapmuka di sekolah.
Menjadi guru adalah panggilan hidup. Sebagai panggilan hidup, cita-cita menjadi guru bisa bermula sedari kecil, bisa jadi dalam perjalanan panjang ketika mencari jati diri. Namun, bisa juga karena dipaksa oleh pihak-pihak tertentu, dan juga karena memaksa diri sendiri oleh sebab kondisi yang membuatnya harus menjadi guru.
Menjadi guru tidak hanya mengerahkan tenaga dan pikiran semata, tetapi juga mencurahkan perasaan, sehingga perilaku yang penuh rekayasa dan dibuat-buat pasti akan dirasakan juga oleh murid-muridnya.
Tiap kali saya berbincang-bincang dengan mahasiswa saya, pertanyaan yang sering saya lontarkan kepada mereka adalah: “Apakah menjadi guru memang cita-cita sejak kecil?” Rata-rata mereka menjawab: “Tidak.”
Begitu pula tiap kali saya bertanya kepada anak kecil tentang cita-citanya kelak kalau sudah besar ingin menjadi apa, pasti kata “guru” jarang meluncur dari bibir mungil mereka. Jawaban yang bisa ditebak dari mereka biasanya adalah menjadi dokter, tentara, polisi, pilot, hakim dan sejumlah profesi yang mereka anggap hebat.
Guru biasanya tidak masuk dalam daftar manusia hebat di dalam pikiran anak-anak kita. Kalau begitu, berarti guru tidak hebat ya? Nanti dulu. Banyak mereka yang saat ini menjadi guru lantaran terdampar. Setelah malang-melintang mengejar cita-cita tak tercapai, sebagian di antara mereka berlabuh di dunia pendidikan.
Dulu pada saat persyaratan menjadi guru harus memiliki Akta Mengajar, banyak Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) diserbu oleh lulusan Sarjana S1 untuk mendapatkan akta tersebut.
Itu artinya ada sekian banyak orang yang terpaksa “banting setir” dari cita-cita semula yang memang bukan menjadi guru beralih kepada harapan baru mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan. Mereka rela harus menambah kuliah lagi selama dua semester untuk memenuhi persyaratan tersebut.