Perguruan Tinggi dan Peradaban Bangsa
- vstory
Saat ini, setelah aneka peristiwa terjadi di panggung sosial politik terjadi polarisasi yang sangat tajam, banyak orang makin menyadari bahwa Pancasila memang ideologi yang bisa merekatkan semua unsur budaya yang ada di negeri ini. Apa yang disampaikan oleh Dirjen Dikti, Prof. Nizam, mungkin perlu dicermati dan diimplementasikan. Prof. Nizam menyatakan bahwa Pancasila perlu dihayati tidak hanya diajarkan. Penghayatan nilai-nilai Pancasila tersebut, menurut Prof. Nizam bisa melalui festival seni, festival olahraga, atau pun festival literasi.
Apa yang disampaikan Prof. Nizam barangkali adalah untuk menjawab kegagalan indoktrinasi Pancasila di masa lalu. Jika pada masa lalu orang berpancasila karena ancaman penguasa yang mengharuskan sebagai asas tunggal, dan mereka yang menentang Pancasila dianggap sebagai musuh negara, maka situasi pada era kebebasan saat ini tentu kondisinya sangat berbeda. Berpancasila pada saat ini adalah kesadaran bersama. Pancasila adalah jembatan bagi pergulatan sekian banyak ideologi dunia.
Pancasila tak harus ditanamkan dengan indoktrinasi seperti dulu. Melalui kesenian orang bisa menghayati karakter bangsanya. Berkaca dari dunia Barat, mereka membentuk karakter bangsanya dengan mengajarkan filsafat dan sastra dalam semua tingkatan pendidikan. Karya sastra adalah rekaman nilai-nilai luhur dan kebijakan yang dihasilkan oleh bangsanya. Gagasan-gagasan brilian di masa lalu adalah proses panjang para pendahulu bangsa mencari jati dirinya.
Sepanjang zaman karya sastra selalu menjiwai kehidupan mereka. Sastrawan adalah inspirasi bagi pengembangan karakter bangsanya. Sastrawan dan pemikir memeroleh tempat terhormat dan diabadikan sebagai ikon negaranya. Jerman misalnya, menempatkan novelis Johann Wolfgang von Goethe sebagai ikonnya. Tidak ada orang Jerman yang tidak mengenal nama Goethe. Pusat Kebudayaan Jerman yang tersebar di seluruh dunia juga menggunakan namanya, Goethe Institute. Begitu pula dengan Belanda. Orang Belanda juga tak pernah melupakan Desiderius Erasmus Roterodamus yang hidup pada 1466-1536. Nama seorang pemikir humanis ini juga diabadikan sebagai nama Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis.
Indonesia tidak kekurangan sastrawan yang hebat. Indonesia juga sangat kaya dengan para pemikir, baik pada era pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Namun sudahkah kita bangga dengan karya-karya pemikiran mereka? Sudahkah kita bangga menyebut nama mereka dan mengenalkannya kepada dunia?