Mengapa Memilih Bunuh Diri?
- vstory
Tak ada teman atau tempat untuk mencurahkan isi hati. Tak ada yang bisa bahkan mau mendengarkan permasalahan mereka. Terlebih keluarga yang seharusnya menjadi tempat bersandar justru menjadi pihak yang dapat mencetuskan keputusan untuk bunuh diri.
Tiap orang memiliki permasalahan dan persoalan berbeda-beda. Kita tak bisa menilai benar atau salah perbuatan almarhumah atau korban bunuh diri lainnya karena kita tidak berada di situasi mereka. Kita tak memakai sepatu yang mereka pakai.
Oleh karena itu, ketika permasalahan serasa begitu berat seolah menghimpitmu sampai dadamu sesak, akalmu seolah berhenti ingatlah bahwa kematian bukanlah jawabannya. Seperti tema Hari Pencegahan Bunuh Diri tahun ini “Creating Hope Through Action” adalah pengingat ada jawaban lain selain bunuh diri.
Kejadian kasus bunuh diri bukanlah sekadar fakta psikis. Simptomnya tidak dapat diidentifikasi secara jelas seperti penyakit lainnya. Penyebabnya pun tak jelas pasti.
Namun, disagregasi sosial dapat menjadi pemicu seperti kemiskinan, pengangguran, tindak kejahatan, terlebih kehancuran keluarga, menjadi sebuah ekosistem yang mujarab mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri.
Bunuh diri juga bukanlah topik yang mudah untuk dibicarakan. Norma tabu dan stigma masih melingkupi sehingga banyak yang menghindarinya. Sikap penghindaran dapat menyebabkan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita menjadi tak tertolong.(Dita Christina, PNS di Badan Pusat Statistik)