Perang di Era 4.0 Transformasi Pemimpin dari Homo Deus ke Homo Sapiens

Sumber : Invasi rusia; sumber The Washington Post
Sumber :
  • vstory

VIVA – Masyarakat dunia tengah berduka, Putin menginvasi Ukraina. Semua terkejut, semua terpengarah. Siapa yang membayangkan? Abad 21 yang di mana kita semua menyaksikan maha karya manusia yang dikenal  dengan disrupsi yang sangat cepat di segala bidang nyatanya belum bisa mendisrupsi keserakahan, ketamakan, ego dan arogansi manusia untuk menaklukan bangsa lain.

img_title Kabar Gembira untuk Timnas Indonesia: Bintang Muda Belanda Mulai Kasih Sinyal Ingin Dinaturalisasi Emil Aman di Como,

Kita semua dibayangi kengerian dan kecemasan  gambaran-gambaran perang masa lalu yang begitu ngeri muncul dibenak kita.  Gambaran-gambaran seram menarik file-file momori kita atas kejadian-kejadian perang besar di masa lalu yang begitu kelam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jatuhnya bom di atas kota Hiroshima dan Nagasaki, hancurnya Pearl Harbor, Perang Korea, perang dunia ke II  dan tentu saja bangsa kita dengan sejarah panjang perang-perang melawan era kolonialisme di Indonesia yang terjadi sepanjang umur bangsa ini.

img_title Kaltim Masih Panas, BMKG Ingatkan El Nino Menguat dan Puncak Kekeringan September-Oktober

Perang hanya menyisakan duka. Makna invasi adalah sesungguhnya pembantaian yang diperhalus. Ada banyak darah yang tumpah dan ribuan  tubuh warga sipil yang terkoyak-koyak. Setiap kali perang terjadi, setiap kali itu juga manusia harus menanggalkan harga dirinya sebagai manusia.

Meskipun dalam skala kecil, serbuan Rusia ke Ukraina menimbulkan banyak spekulasi bahwa dunia  sesungguhya tidak seaman gambaran yang ada dibenak kita selama ini.

img_title Bukan Cuma Bunga Mahal, Ini yang Bikin Kredit Motor Listrik Masih Belum Gampang

Secara kolektif sebagai penduduk bumi, kita percaya bahwa perang di medan pertempuran sudah berakhir, seiring dengan berakhirnya perang dunia ke II. Kita merasa bahwa manusia abad 21 adalah manusia-manusia modern hanya akan berperang di dunia maya dengan kamajuan teknologi.

Kita mengira, bahwa homo sapiens sudah punah, dan masyarakat dunia saat ini adalah masyarakat homo Deus yang mendewakan teknologi dan menanggalkan tradisi-tradisi homo Sapien yang masih berpikir secara tradisional dan di mana mereka harus berebut dengan alam untuk bisa mempertahankan hidup agar tidak mengalami kepunahan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Homo Deus dan homo Sapiens adalah dua buku Harari yang menggambarkan kemajuan peradaban manusia dari zaman batu sampai era modern.

Homo Sapien adalah fase-fase berat umat manusia yang kebudayaanya masih sangat primitif dan  hanya untuk bertahan hidup. Alat-alat yang mereka miliki sangat terbatas.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut