Sketsa Ramadhan: Telanjang
- vstory
Mengapa warga negeri gemah ripah loh jinawi yang terkenal lemah lembut, ramah dan santun bisa mendadak angkara dalam sekedipan mata? Muasalnya terkait dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum yang berlaku. Jika massa melihat keadilan tak pernah berpihak kepada yang lemah, atau proses penegakan hukum hanya formalitas yang bertele-tele, tebang pilih dan berat sebelah, akan membuat mereka lampiaskan aksi massa penghakiman sebagai cara protes terbuka untuk menunjukkan ketidakpercayaan terhadap sistem hukum yang tak ditegakkan secara adil dan transparan.
Mengapa korban harus ditelanjangi? Apakah dibuat babak belur saja tidak cukup? Jika kita teroka dengan pendekatan sosiologis-antropologis, hal ini berkaitan dengan pemaknaan konsep “malu” sebagai variabel kontrol dalam menimbang pengaruh sebuah tindakan.
Luka bonyok akibat babak belur bisa sembuh dalam hitungan pekan, membuat mereka yang bermental begal-begundal sejati bisa kembali menjalankan aksi lancungnya lagi dan lagi. Tetapi dengan memberi pelajaran tentang pentingnya “ke-malu-an”, ada pesan gamblang dari sebuah aksi massa yang meradang agar pelaku tak mengulangi lagi kriminalitasnya di masa depan karena sudah “diper-malu-kan”. Sebuah rekam jejak yang akan hidup pada ingatan kolektif massa dan anak keturunan pelaku kejahatan. Penelanjangan menjadi instrumen penting pembelajaran.
Di sinilah pentingnya sensitivitas rasa “malu” sebagai jaring-jaring pengaman perbuatan manusia, sehingga Nabi Muhammad s.a.w. ( peace be upon him) dengan jelas mengingatkan, “Jika kamu tidak punya malu, maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR Bukhari).
Itu berarti semakin tinggi kadar dan kualitas rasa malu seseorang, akan semakin hati-hati dan seksama dirinya dalam berucap dan bersikap. Sebaliknya, kian rendah dan tipis rasa malu yang dimiliki, kian besar juga rem blong dalam jiwa-tanpa-malunya dalam melakukan ucapan lisan dan aktivitas perbuatan yang menyakiti hati.
Apa pentingnya membahas telanjang dan ketelanjangan di bulan suci? Apakah justru tidak mencederai pahala berpuasa? Tergantung cara melihatnya.
Senyampang hari ini memasuki 10 Ramadan, hari terakhir dari fase pertama yang penuh rahmat sebelum masuk fase kedua, selama sepuluh hari berikutnya yang penuh pengampunan ( maghfirah), memahami ketelanjangan spiritualitas diri sendiri di hadapan Allah Yang Maha Melihat justru akan menjadi gerbang awal memasuki Taman Ihsan (ihsan adalah kondisi di mana “seakan-akan dirimu melihat-Nya, namun jika kau tak bisa melihat-Nya yakinlah bahwa Dia selalu melihatmu.”)